skripsi

November 20, 2008

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang masalah
Sastrawan adalah anggota masyarakat yang hidup dalam sebuah tatanan masyarakat yang mempunyai unsur-unsur pengatur yang bersifat normatif, yakni tata kemasyarakatan yang harus dipenuhi oleh setiap anggota masyarakat. Dengan demikian, ide, pandangan, sikap, sistem berpikir, serta kebutuhan anggota masyarakatnya, termasuk sastrawan, dipengaruhi oleh tata kemasyarakatan yang berlaku. Dengan sendirinya, karya sastra, sebagai karya seni kreatif sekalipun, masih dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sosial yang ada.
Sebagai salah satu cabang dari kesenian, sastra juga memiliki sifat imajinatif dari pengarangnya yang mengandung nilai estetis. Namun, sekalipun imajiner karya sastra, “menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan dengan diri sendiri, serta interaksi dengan Tuhan. Ia merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan” (Nurgiyantoro, 2002:3). Sebagai manusia yang memiliki kreativitas, pengarang terdorong untuk merealisasikan pengalaman tersebut ke dalam wujud bentuk, maka lahirlah karya sastra.
Dari sekian banyak karya seni, sastralah yang mempunyai fungsi sosial yang lebih besar, sebab medium yang digunakan adalah bahasa, yang merupakan medium paling leluasa untuk berbicara dan memperjuangkan kepentingan hidup manusia, serta mengekspresikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kesempurnaan hidup manusia. Dalam kebudayaan masyarakat kita menjumpai berbagai pernyataan yang menyatakan persamaan manusia. Di bidang hukum, misalnya, kita mengenal anggapan bahwa semua orang sama di hadapan hukum. Pernyataan serupa kita jumpai juga dalam bidan agama. Namun, pada kenyataan sehari-hari, kita mengalami adanya ketidaksamaan. Kita melihat bahwa dalam semua masyarakat dijumpai ketidaksamaan. Di bidang kekuasaan, misalnya, sebagian anggota masyarakat mempunyai kekuasaan, sedangkan sisanya di kuasai. Kita pun mengetahui bahwa anggota masyarakat dibeda-bedakan berdasarkan kriteria lain; misalnya berdasarkan kekayaan dan penghasilan, atau berdasarkan prestise dalam masyarakat. Perbedaan status yang dimiliki masarakat, dalam sosiologi, dinamakan stratifikasi sosial.
Dalam karya sastra ada yang dinamakan satire. Karya sastra ini isinya mengambil sindiran halus, baik terhadap keadaan masyarakat umumnya, maupun terhadap seseorang. Dengan satire kritikan tajam tidak perlu disampaikan secara transparan, tetapi dibungkus humor yang lucu. Karya sastra yang berbau satire tak perlu tergelincir pada absurditas hingga sulit dimengerti, karena disuguhkan sebagai pisau bermata dua. Para pemikir bisa memaknai isinya, orang awam bisa menikmati kelucuannya.
Salah satu genre sastra yang bisa mengungkap dengan leluasa hal itu adalah drama. Dalam drama bisa disaksikan realitas yang sebenarnya secara kentara, karena drama merupakan karya sastra yang bisa di apresiasi secara langsung. Hal itu bisa kita ambil contohnya dari pementasan Drama Komedi Juragan Hajat karya Kang Ibing. Yang selanjutnya akan penulis singkat menjadi DKJH.
Ada banyak hal dari drama DKJH untuk dijadikan bahan kajian penelitian, terutama kaitan antara karya sastra sebagai bagian dari produk budaya masyarakat yang bisa mewakili pandangan serta ide-ide penulis terhadap kehidupan dan sejarah yang melahirkannya. Mengacu kepada judul penelitian ini yaitu “Stratifikasi Sosial Masyarakat Sunda”, maka penulis akan mencoba mengungkap bagaimana stratifikasi sosial masyarakat Sunda dalam DKJH. Hal ini mengacu kepada pendapat Godmann “bahwa karya sastra merupakan hasil karya manusia atau subjek tertentu untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungan dengan dunia sekitarnya. Lingkungan itu sendiri merupakan kondisi struktur yang di dalamnya subjek itu hidup. Pada hakikatnya, pelapisan kepada urutan atau tatanan yang hierarkis seperti tinggi-rendah, unggul-biasa, suferior-inferior, priyayi-wong cilik, kaum ningrat-rakyat jelata, santri-abangan, selalu tercakup dalam pelapisan sosial. Perbedaan itu juga mencerminkan pola masyarakat (social structure): masyarakat mengatur kedudukan dan peranan pelaku sosial sesuai dengan pola-pola tersebut (Soelaeman, 1995:89).
Dalam masyarakat Sunda dikenal dengan adanya istilah ménak. Istilah ini merupakan salah satu kosa kata yang sangat populer bagi masyarakat Sunda untuk menunjukkan satu satu lapisan masyarakat yang berdasarkan hukum (saat itu) memiliki hak yang istimewa.
Ménak adalah sekelompok masyarakat kecil yang istimewa dan luar biasa kehebatannya, baik dalam hal fisik, kekayaan, kepribadian maupun gaya hidupnya. Ménak merupakan kelompok sosial yang mempunyai kedudukan paling tinggi. Di bawah ménak masih ada lagi kelompok sosial santana. Santana adalah golongan bangsawan kecil yang merupakan keturunan dari perkawinan antara seorang ménak dengan golongan yang lebih rendah kelompok lain yang menempati pelapisan sosial masyarakat Sunda. Sedangkan kelompok cacah menempati posisi paling bawah satu kelas di bawah santana. Dalam hal ini penulis akan mencoba mengungkap bagaimana stratifikasi sosial yang terdapat dalam DKJH.
Penulis berkeyakinan bahwa untuk mengkaji sebuah karya sastra dengan baik diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap karya itu sendiri, serta aspek-aspek pendukungnya. Semakin dalam menguasai aspek-aspek pendukungnya, maka semakin sempurna dalam memberikan penilaian terhadap karya sastra tersebut. Dengan dasar inilah, penulis mencoba menganalisis drama DKJH dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik. Penulis tertarik mengkaji DKJH karena ingin mengungkap hubungan stratifikasi sosial yang ada dalam karya dengan kondisi sosial masyarakat Sunda.
Melalui pengkajian DKJH penulis berharap dapat memperoleh gambaran realitas kehidupan masyarakat Sunda dalam DKJH, sekaligus menggali pandangan, serta ide-ide pengarang terhadap realitas sosial tersebut melalui penelaahan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsiknya.
Dengan demikian, pembahasan DKJH ini akan menggabungkan analisis struktur karya itu dengan struktur sosialnya. Struktur karya ini melibatkan lingkungan kehidupan pengarang yang sangat berperan dalam proses karya ciptaannya. Hal ini sesuai dengan asumsi strukturalisme genetik bahwa karya sastra tidaklah lahir dari kevakuman sosial.

1.2 Identifikasi Masalah
Bertolak dari latar belakang di atas, penulis membatasi pada tiga masalah yang akan dianalisis, yaitu:
1. Bagaimana struktur sosial masyarakat Sunda dalam DKJH?
2. Bagaimana hubungan posisi pengarang dan kelompok sosial? masyarakat Sunda(?)
3. Bagaimana hubungan DKJH dengan realitas sosial? masyarakat Sunda(?)

1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan identifikasi nasalah, maka tujuan penelitian ini ialah:
1. Mendeskripsikan struktur sosial masyarakat Sunda dalam DKJH.
2. Mendeskripsikan hubungan posisi pengarang dan kelompok sosial dalam DKJH. masyarakat Sunda(?)
3. Mendeskripsikan hubungan DKJH dengan realitas sosial masyarakat Sunda(?)

1.4 Landasan teori
Sosiologi sastra merupakan sebuah kajian yang memfokuskan diri pada relevansi sastra dengan masyarakat. Sosiologi sastra dalam pengertian ini mencakup berbagai pendekatan yang masing-masing didasarkan pada sikap dan pandangan teoritis tertentu (Damono, 78:2).
Sosiologi sastra menaruh perhatian terhadap relevansi masyarakat sebagai asal-usul dari penciptaan karya sastra. Hal itu dipicu oleh kesadaran bahwa karya sastra tidak dapat dipisahkan dari aspek-aspek kebudayaan yang lain. Sosiologi sastra bertujuan untuk mengembalikan karya sastra ke dalam milieu di mana karya tersebut timbul dan dipahami.
Mengacu kepada apa yang diungkapkan Ratna (2004:322), ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat; dan dengan demikian sasatra harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, yaitu:
1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh pencerita, disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subjek tersebut adalah anggota masyarakat.
2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya difungsikan oleh masyarakat.
3. Medium karya sastra baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya mengandung masalah-masalah kemasyarakatan.
4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan logika. Masyarakat jelas berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.
5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan Citra dirinya dalam studi sastra.

Sebagai multidisiplin, maka ilmu-ilmu yang terlibat dalam sosiologi sastra adalah sastra dan sosiologi. Secara definitif penelitian sosiologi sastra menggunakan teori-teori sastra dan sosiologi. Dengan pertimbangan bahwa sosiologi sastra sudah menjadi suatu disiplin yang baru, yang dengan sendirinya sudah dievaluasi sepanjang periode perkembangannya, maka sosiologi sastra mencoba menciptakan teori-teori yang secara khas lahir melalui kombinasi sastra dan sosiologi (Ratna, 2004:339). Salah satu teori yang telah diakui relevansinya adalah teori Struktural Genetik.
Strukturalisme genetik dapat didefinisikan sebagai analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya. Secara ringkas berarti bahwa strukturalisme genetik sekaligus memberikan perhatian terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik (Ratna 2004:123). Secara lebih umum, strukturalisme genetik harus menjelaskan struktur dan asal usul struktur itu sendiri, dengan memperhatikan relevansi konsep homologi, kelas sosial, subjek transindividual, dan pandangan dunia.
Dalam pendekatan strukturalisme genetik terdapat sebuah masalah pokok yaitu menyangkut pandangan dunia. Secara definitif Goldmann menjelaskan bahwa pandangan dunia merupakan ekspresi psike melalui hubungan dialektis kolektivitas tertentu dengan lingkungan sosial dan fisik, dan terjadi dalam periode bersejarah yang panjang. Pandangan dunia bukanlah ideologi sebagaimana terkandung dalam pemahaman Marxisme atau pemahaman masyarakat pada umumnya. Konsep-konsep yang mendasari pandangan dunia harus digali melalui dan di dalam kesadaran kelompok yang bersangkutan dengan melibatkan indikator sistem kepercayaan secara keseluruhan.
Pandangan dunia dipermasalahkan dalam berbagai disiplin, dan dengan sendirinya dengan definisi yang berbeda. Pandangan dunia sebagaimana dimaksudkan dalam karya sastra, seperti telah di uraikan di atas, khususnya menurut visi strukturalisme genetik berfungsi untuk menunjukkan kecenderungan kolektivitas tertentu.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini ialah: (a) meneliti unsur-unsur karya sastra, (b) meneliti hubungan unsur-unsur karya sastra dengan totalitas karya sastra, (c) meneliti unsur-unsur masyarakat yang berfungsi sebagai genesis karya sastra, (d) hubungan unsur-unsur masyarakat dengan totalitas masyarakat, dan (e) meneliti hubungan karya sastra secara keseluruhan dengan masyarakat secara keseluruhan. (Teu kedah diLebétkeun, kapan tos aya dina metode penelitian)

1.5. Metodologi
1.5.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu meneliti ciri-ciri dari objek yang diteliti dalam rangka mencari hubungan kausalitas dari data yang ada. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Memahami data dengan pemahaman yang cermat, yaitu dengan cara membaca karya secara teliti.
2. Mengumpulkan data dengan cara mencari data-data dalam bentuk kalimat.
3. Memilih dan memilah data, yaitu mengelompokkan data dan mengklasifikasikannya.
4. Membuat interpretasi, yaitu disesuaikan dengan teori yang digunakan, langkah ini dilakukan dengan cara memberikan deskripsi dengan data-data yang ada dan dianalisis dengan teori sosiologi sastra menggunakan pendekatan struktural genetik.
5. Menarik kesimpulan (generalisasi).

1.5.2 Metode kajian
Metode kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan strukturalisme genetik. Pendekatan ini digunakan untuk melihat hubungan antara karya sastra dengan realitas masyarakat sesungguhnya, bagaimana karya terbentuk sebagi miniatur dari dunia nyata. Penelitian terhadap drama komedi DKJH dengan menggunakan struktural genetik sangat penting dilakukan karena dapat membuka jalan kepada pemahaman yang memadai atas DKJH.

1.6 Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah drama komedi Juragan Hajat karya Kang Ibing, yang diterbitkan oleh 1221 pada bulan Januari 2005.

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra mempunyai hubungan erat dengan masyarakat, karena karya sastra adalah sebuah hasil karya cipta pengarang (sebagai anggota masyarakat) yang kemudian diapresiasi oleh pembaca sebagai anggota masyarakat. Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari akar kata sosio (Yunani) (socius berarti bersama-sama, bersatu, kawan, teman) dan logi (logos berarti sabda, perkataan, perumpamaan) (Ratna, 2002;1).
Swingewood (1972) dalam bukunya yang berjudul The Sociologi of Literature, mendefinisikan sosiologi sastra sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat (Faruk, 2005; 1). Dalam kaitan antara sastra dengan masyarakat, maka sosiologi mengemukakan pemahaman bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan, karena sosiologi sastra memberi perhatian yang lebih terhadap fungsi sastra sebagai produk masyarakat tertentu, di sini pengarang berperan untuk memainkan tokoh-tokoh ciptaannya dalam situasi rekaan yang kemudian menyesuaikan diri dan melakukan perubahan terhadap masyarakat itu. Hubungan karya sastra dengan masyarakat, baik sebagai negasi dan inovasi, maupun afirmasi, jelas, merupakan hubungan yang hakiki. Karya sastra mempunyai tugas penting, baik dalam usahanya untuk menjadi pelopor pembaharuan, maupun memberikan pengakuan terhadap suatu gejala kemasyarakatan (Ratna, 2002; 334).

2.2 Strukturalisme Genetik
Strukturalisme Genetik adalah pendekatan yang digunakan untuk meneliti sebuah karya sastra dengan menonjolkan dua hal yang sama pentingnya, yaitu pengarang dan karya sastra itu sendiri. (Saur saha? serat sumnerna) Strukturalisme Genetik ditemukan oleh Lucian Goldman seorang filsuf dan sosiolog Rumania Prancis, dalam bukunya yang merupakan terbitan pertama pada tahun 1956 berbahasa Prancis dengan versi bahasa Inggrisnya berjudul The Hidden God: a Study Of Tragic Vision in The Vensees of Pascal and Tragedies of Racine. Struktural Genetik memandang karya sastra sebagai sebuah struktur, sistem relasi antarelemen. Struktur tersebut adalah produk dari proses sejarah dan tidak bersifat statis. Metode dialektika struktural genetik bekerja memahami struktur sosial dengan teks sastra yang diteliti. Menurut Goldman, strukturalisme genetik menganggap karya sastra sebagai semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi-relasi secara imajiner (Faruk, 1999;12). Secara lebih umum strukturalisme genetik harus menjelaskan struktur dan asal usul struktur itu sendiri, dengan memperhatikan terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik yang ditopang oleh fakta kemanusiaan, subjek kolektif, pandangan dunia dan struktur karya.
Dalam strukturalisme Genetik, karya sastra dapat dianalisis dari struktur dalam karya sastra itu maupun dari segi eksternalnya seperti lingkungan sosial, ekonomi, politik dan budaya pada saat karya itu tercipta. Hal inilah yang menjadi pembeda antara pendekatan strukturalisme genetik dengan strukturalisme murni yang dikembangkan oleh kaum formalis Rusia dan lingkaran linguistik Praha. Untuk memahami pendekatan strukturalisme genetik lebih mendalam, maka akan digambarkan terlebih dahulu strukturalisme murni.
Pendekatan strukturalisme murni beranggapan bahwa “teks sastra adalah satu-satunya bahan untuk kritik sastra” (Damono, 1984:38). Maka, pembatasan ini membatasi diri pada penelaahan karya sastra itu sendiri, terlepas dari faktor-faktor eksternal saat karya itu tercipta. Karya sastra menurut kaum strukturalis adalah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Dalam pandangan para kritikus formalis Rusia (Damono, 1984:38) “ karya sastra memiliki status sebagai objek kultural yang otonom, dan memenuhi kebutuhannya sendiri”. Seandainya ada pengaruh luar yang masuk, hal itu terjadi secara tidak langsung (tanpa disengaja). Pendekatan ini dengan sendirinya bersifat statis dan ahistoris. Kaum strukturalisme yang menekankan karya sastra tersebut memiliki dua kelemahan pokok (Teeuw, 1983:61), “yaitu melepaskan karya sastra dari kerangka sejarah sastra dan mengasingkan karya sastra dari rangka sosial budayanya”.
Pendekatan strukturalisme genetik lahir dari ketidakpuasan terhadap penggunaan pendekatan strukturalisme murni seperti yang telah diuraikan di atas. Pendekatan strukturalisme genetik menggabungkan dua pendekatan secara sekaligus, yaitu strukturalisme murni dengan sosiologi. Menurut Goldmann, “tidak ada pertentangan antara sosiologi sastra dengan strukturalisme” (Teeuw, 1984:152). Goldmann percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Akan tetapi, struktur itu bukanlah yang statis, melainkan produk dari suatu sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat oleh masyarakat yang bersangkutan. Karrena itu, Goldmann menyebut teorinya sebagai strukturalisme genetik (Faruk, 2005:12).
Goldmann juga mengembangkan konsep pandangan dunia (world view) yang terwujud dalam setiap karya sastra dan filsafat yang besar. Pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial yang lain. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomi tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya (Faruk, 2005;16). Pandangan dunia bukan hanya merupakan ekspresi kelompok sosial, tetapi juga kelas sosial (Damono, 1984:41). Goldmann beranggapan bahwa pengarang tidak mungkin mempunyai pandangannya sendiri. Dia menyuarakan kelompok sosial (transindividual subject) dan membawanya ke tingkat kepaduan yang tinggi dalam bentuk karya imajinatif atau pikiran yang konseptual.
Menurut Goldmann untuk menggunakan pendekatan strukturalisme genetik, peneliti harus memiliki karya yang besar; syarat itu didasarkan pada pandangan Goldmann tentang fakta estetis, yaitu (1) hubungan antara pandangan dunia sebagai suatu kenyataan dunia sebagai suatu kenyataan yang dialami dalam alam ciptaan pengarang, (2) hubungan antara alam ciptaan ini dengan alat-alat kesusastraan seperti sintaksis, gaya dan cita yang digunakan pengarang dalam penulisannya. Syarat kedua, adalah karya sastra yang diteliti hendaknya karya masa lampau. Akan tetapi, syarat yang kedua ini bukanlah syarat yang bersifat mutlak.
Untuk meneliti karya sastra besar, Goldmann mengembangkan metode dialektik, metode ini bermula dan berakhir pada teks sastra. Metode dialektik mengembangkan dua pasangan konsep, yaitu “keseluruhan-bagian” dan ”pemahaman-penjelasan”. Setiap fakta atau gagasan individual mempunyai arti hanya jika ditempatkan dalam keseluruhan itu. Karya sastra sebagai produk strukturasi pandangan dunia, cenderung mempunyai struktur yang koheren. Sebagai struktur yang koheren, karya sastra merupakan satuan yang dibangun dari bagian-bagian yang lebih kecil. Oleh karena itu, pemahaman terhadapnya dapat dilakukan dengan konsep “keseluruhan-bagian” di atas. Akan tetapi, teks sastra itu sendiri merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar, yang membuatnya menjadi struktur yang berarti. Dalam hal ini, pemahaman mengenai teks sastra sebagai keseluruhan tersebut harus dilanjutkan dengan usaha menjelaskannya dan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar di atas.
Sampai di sini telah dapat dilihat konsep pemahaman penjelasan Goldmann. Yang dimaksud dengan pemahaman adalah usaha pendeskripsian struktur objek yang dipelajari, sedangkan penjelasan adalah usaha untuk menggabungkannya ke dalam struktur yang lebih besar. Dengan kata lain, pemahaman adalah usaha untuk mengerti identitas bagian, sedangkan penjelasan adalah usaha untuk mengerti makna bagian itu dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar (Faruk, 2005:21).
Selanjutnya, pemahaman karya sastra tersebut dilanjutkan dengan cara menerapkan hubungan karya sastra itu sendiri terhadap konvensi struktur sosiobudayanya (struktur genetiknya), karena teks itu menjadi struktur yang berarti bila ditempatkan dalam keseluruhan yang besar. Penelitian harus menggali secara cermat terhadap struktur itu kemudian dibandingkan dengan data-data dan analisis keadaan sosial budaya masyarakat yang bersangkutan.
Untuk menopang teorinya tersebut Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain sehingga membentuk apa yang disebutnya sebagai strukturalisme-genetik di atas. Kategori-kategori itu adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.

2.2.1 Fakta Kemanusiaan
Fakta kemanusiaan adalah segala hasil atau aktivitas atau prilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan (Faruk, 2005;12). Fakta kemanusiaan ini dibagi menjadi dua macam yaitu fakta individual dan fakta sosial, fakta individual tidak berperan dalam sejarah karena hanya merupakan hasil dari perilaku libidinal manusia (mimpi), sedangkan fakta sosial mempunyai peranan dalam sejarah dengan kata lain fakta-fakta itu adalah usaha manusia dalam mencapai keseimbangan dengan alam sekitarnya, pada dasarnya manusia selalu berusaha mengasimilasikan lingkungan sekitarnya ke dalam skema pikiran dan tindakannya (Goldmann dalam Faruk, 2005;13).
Pada dasarnya bentuk-bentuk kongkrit lapisan lapisan masyarakat tersebut banyak, namun secara prinsipiil dalam DKJH bentuk-bentuk tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan latar belakang ekonomi, politis dan jabatan-jabatan tertentu dalam masyarakat. Dalam DKJH latar belakang ekonomi banyak menunjukkan posisi tokoh-tokoh yang menempati lapisan masyarakat cacah dalam kata lain DKJH lebih menekankan posisi cacah karena kekurangan ekonomi.
Latar belakang politis yang identik dengan kekuasaan dalam DKJH menduduki suatu lapisan tertinggi atas dasar ekonomis dan latar belakang kekuasaan dalam masyarakat yang dalam DKJH kekuasaan ini ditunjukkan melalui gelar ménak atau Juragan. Seorang Juragan yang kaya raya dapat dengan leluasa mengatur kekuasaannya atas keadaan dan orang-orang dalam posisi di bawahnya.
Jabatan dalam masyarakat yang tergambar dalam DKJH bukan pada jabatan strategis dalam pemerintahan saja namun ada jabatan lain yang dalam masyarakat diukur oleh kehormatan tertentu seperti yang di tunjukkan oleh Ua Lebé, Lebé dalam masyarakat adalah orang yang memiliki latar belakang ilmu keagamaan yang lebih agama dan pernikahan. Adapun jabatan pemerintahan yang ditunjukkan DKJH melalui tokoh sekdes tampaknya kurang di ekspos oleh pengarang seperti halnya Ua Lebé.

2.2.2 Subjek Kolektif
Fakta kemanusiaan adalah hasil dari aktivitas manusia sebagai subjeknya. Subjek tersebut dibagi atas dua yaitu subjek individual dan subjek kolektif. Subjek individual merupakan subjek fakta individual (libidinal), sedangkan subjek kolektif merupakan subjek fakta sosial ( historis). Menurut Goldmann (1977:99) (Kutipan ti mana: Faruk at Teeuw?), kelompok sosial yang patut dianggap sebagai subjek kolektif dari pandangan dunia itu hanyalah kelompok sosial yang gagasan-gagasan dan aktivitas-aktivitasnya cenderung ke arah suatu penciptaan suatu pandangan yang lengkap dan menyeluruh mengenai kehidupan sosial manusia.

2.2.3 Pandangan Dunia
Pandangan dunia adalah pokok masalah bagi struktural genetik. Menurut Goldmann (1977:17) (Kutipan ti mana: Faruk at Teeuw?), pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi gagasan-gagasan aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya dengan kelompok-kelompok sosial yang lain. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomi tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya (Goldmann dalam Faruk, 2005;16). Pandangan dunia merupakan kesadaran yang tidak semua orang memahaminya, karena merupakan produk interaksi antara subjek kolektif dan situasi sekitarnya, secara perlahan dan bertahap mentransformasi mentalitas yang lama.
Perlu dicatat bahwa pandangan dunia ini tidak sama dengan ideologi. Esensi ideologi terletak pada pandangannya yang sepihak terhadap dunia; dikatakan merupakan “kesadaran palsu”; sedangkan “ kesadaran sejati” hanya bisa diperoleh apabila dunia dipahami dan dipandang sebagai suatu keutuhan. Goldmann menyebut pandangan dunia ini sebagai suatu bentuk kesadaran kelompok kolektif yang menyatukan individu-individu yang menjadi suatu kelompok yang memiliki identitas kolektif. Pandangan dunia, bagi Goldmann, bukanlah merupakan fakta empiris yang langsung, tetapi lebih merupakan struktur gagasan, aspirasi, dan perasaan yang menyatukan suatu kelompok sosial di hadapan suatu kelompok sosial yang lain (Damono;1978:41)

2.3 Unsur Intrinsik
2.3.1 Tokoh Penokohan
Peristiwa-peristiwa dalam karya fiksi diemban dan dikembangkan oleh pelaku-pelaku atau tokoh-tokoh tertentu sehingga peristiwa-peristiwa dalam cerita fiksi itu mampu menjalin suatu struktur cerita yang menarik. Sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh itu. Tokoh cerita menurut Abram adalah orang (-orang) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Nurgiyantoro 2002:165). Tokoh merupakan pelaku yang menyertai peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita dan pada setiap cerita tokoh memiliki peran yang berbeda – beda dengan segala lika – likunya. Sedangkan penokohannya itu sendiri adalah watak dan penciptaan citra tokoh dalam suatu cerita.
Pembedaan tokoh-tokoh juga terbagi atas beberapa jenis penamaan yang didasarkan dari mana sudut penamaan itu diambil, menurut Nurgiantoro (2002:176-177), dapat dijelaskan bahwa tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Denngan demikian, tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan dan sangat menentukan perkembangan plot selanjutnya. Sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh- tokoh yang dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita atau dapat dikatakan porsi kehadirannya dalam cerita lebih sedikit daripada tokoh utama.
Akhirnya, untuk memahami dan menilai tokoh cerita, kita dituntut pula memehami secara baik karya sastra dalam pengertian kesepertihidupan (lifelikeness) dan karya sastra dalam pengertian “sastra” dan imajinatif. Menurut Nurgiyantoro (2002:168), jika pembaca terlalu mengharapkan tokoh cerita yang berciri kehidupan seperti yang dikenalnya dalam dunia nyata, hal itu berarti pendangkalan terhadap karya kesusastraan yang “sastra” dan imajiner.

2.3.2 Plot
Plot dikenal pula sebagai alur, namun sebenarnya ada juga istilah lain dari plot itu sendiri yaitu struktur naratif atau sUjéct. Kenny mengemukakan plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat (Nurgiyantoro, 2002:113). Plot berisi kaitan antarperistiwa yang bukan hanya berurutan namun juga memiliki kaitan sebab akibat, yang kemudian akan mempermudah pemahaman pembaca terhadap teks yang dihadapi. Hadirnya plot dalam cerita juga dapat menarik perhatian pembaca karena di dalamnya dapat mengandung konflik dan ketegangan. Plot dapat dibangun atas tiga unsur yaitu peristiwa, konflik dan klimaks.
Dengan demikian, plot dapat diartikan sebagai urutan kejadian atau peristiwa dalam suatu plot yang dirangkai oleh pengarang sehingga mengalami perkembangan dalam hubungan sebab akibat. Plot sering dikupas menjadi elemen-elemen sebagai berikut: (1) pengenalan, (2) timbulnya konflik, (3) konflik memuncak, (4) klimaks, dan (5) pemecahan soal. Persoalan tersebut serupa dengan apa yang di kemukakan Aristoteles bahwa sebuah plot haruslah terdiri dari tahap awal (beginning), tahap tengah (middle), dan tahap akhir (end). Ketiga tahap tersebut penting untuk diketahui, terutama jika ingin menelaah plot karya fiksi yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2002:142).

2.3.3 Latar
Latar memberikan gambaran dalam cerita untuk menunjukkan tempat dan waktu kejadian. Hal ini dilakukan untuk lebih memberikan kesan nyata dalam cerita. Latar atau setting menurut Abrams adalah landas tumpu, menyarankan pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Nurgiyantoro, 2002:216).
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi sedangkan latar waktu berhubungan dengan kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Adapun latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat disuatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi (dalam Nurgiyantoro, 2002:227-233). Pengertian latar yang diungkapkan diatas adalah sebagai bagian unsur fiksi yang kemudian bersama-sama membentuk cerita karena dalam pembacaan mengenai struktur, akan selalu terdapat keterkaitan antar unsur pendukung cerita didalamnya.
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa setting adalah latar peristiwa dalam fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan psikologis.

2.3.4 Tema
Tema sebuah karya sastra selalu berkaitan dengan makna kehidupan. Tema disimpulkan dari keseluruhan cerita, tema hadir dalam cerita secara eksplisit. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantik dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan (Hartoko & Rahmanto, 1986:142).
Penjelasan di atas memperlihatkan, bahwa tema merupakan dasar utama cerita dan juga tujuan utama cerita, dengan demikian, kehadiran peristiwa-peristiwa, konflik-konflik, situasi dan berbagai unsure intrinsik lain yang harus mencerminkan gagasan dasar cerita. Akhirnya, untuk menemukan tema sebuah fiksi, harus disimpulkan terlebih dahulu dari keseluruhan cerita. Tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu cerita. Tema, sebagai makna pokok sebuah karya fiksi tidak (secara sengaja) karena justru hal inilah yang ditawarkan kepada pembaca. Namun, tema merupakan makna keseluruhan yang didukung cerita, dengan sendirinya akan “tersembunyi” di balik cerita yang mendukungnya (Nurgiyantoro, 2002:68).

2.4 Unsur Ekstrinsik
Pemahaman terhadap struktur ekstrinsik karya sastra akan sangat membantu pembaca atau peneliti dalam memahami karya tersebut, sebab suatu karya tidaklah muncul dari kevakuman sosial dan budayanya, sebagaimana yang di kemukakan Atar Semi (1988:68), struktur ekstrinsik adalah segala macam unsur yang ada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra tersebut, misalnya faktor sosial ekonomi, faktor kebudayaan, faktor sosiopo-litik, keagamaan dan tata nilai yang dianut masyarakat.
Lebih rinci Wellek dan Werren berpendapat bahwa unsur-unsur ekstrinsik antara lain: keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya. Pendek kata, unsur biografi pengarang akan turut menentukan corak karya yang dihasilkannya. Unsur ekstrinsik berikutnya adalah psikologi pengarang, psikologi pembaca, maupun penerapan prinsip psikologi dalam karya. Kemudian lanjut Wellek dan Werren, keadaan lingkungan pengarang, seperti ekonomi, politik dan sosial, juga akan berpengaruh terhadap karya sastra. Unsur ekstrinsik yang lain, misalnya pandangan hidup suatu bangsa, sebagai karya seni yang lain, dsb. Struktur intrinsik dan ekstrinsik merupakan unsur atau bagian yang secara fungsional berhubungan satu sama lainnya. Bila kedua unsur itu satu sama lainnya tidak berhubungan, maka ia tidak dapat dinamika struktur (Semi, 1988:35).

BAB III

ANALISIS

3.1 Struktur Sosial dalam DKJH

Dalam drama komedi Juragan Hajat pengarang mempunyai misi mengungkapkan tentang kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat dengan dibalut oleh humor, pengarang menghadirkan juragan yang akan melakukan hajatan pernikahan hanya dijadikan media untuk mencapai misi tersebut. Namun, jika kita meninjau lebih dalam DKJH, maka kita akan mendapatkan gambaran tentang adanya stratifikasi sosial di masyarakat. Hal ini ditunjukkan melalui para tokoh pelaku yang mewakili kelas sosial tertentu.
Adanya sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu. Tetapi, ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya dapat dibentuk melalui intelektual, tingkat usia (yang senior), sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang sebagai anggota masyarakat, dan mungkin juga harta dalam batas-batas tertentu.
Dalam DKJH memberi petunjuk kepada kita tentang gambaran stratifikasi sosial masyarakat Sunda pada abad XXI. Stratifikasi sosial yang ditemukan penulis dalam teks DKJH yaitu ménak, santana dan cacah. Untuk lebih jelasnya akan dibahas di bawah ini.

3.1.1 Kelompok Sosial Ménak (Atas)
Ménak adalah sekelompok masyarakat kecil yang istimewa dan luar biasa kehebatannya, baik dalam hal fisik, kekayaan, kepribadian maupun gaya hidupnya. Istilah Ménak sudah merupakan salah satu kosa kata yang sangat populer bagi masyarakat Sunda, yaitu untuk menunjukkan satu lapisan masyarakat yang secara hukum (saat itu) memiliki berbagai hak istimewa. Di kalangan masyarakat Sunda kata ménak diartikan sebagai dimémén-mémén diénak-énak. Demikian pula dengan tokoh Juragan dalam DKJH yang memiliki kekuasaan dan harus diladeni segala keperluannya oleh istri, pembantu dan para pesuruhnya untuk memenuhi segala keinginannya.
(12;a)JURAGAN: Ieuh Pudin! Silaing ku dewek dititah nyieun surat ondagan. Di mana silaing nyitak surat undangan teh?
Eh Pudin! Kamu saya suruh membuat surat undangan. Di mana kamu mencetaknya?
SI PUDIN : Di Si Tek An Gan. Rerencangan abdi….
Di si Tek an Gan. Teman saya….

JURAGAN : Terus nanaonan dina surat ondangan ieu, ngaran dewek di tukangnya make SH, da dewek mah lain sarjana hukum. Era deuleu ku batur.
Terus kenapa dalam surat undangan ini nama saya di belakangnya memakai huruf SH, saya bukan Sarjana Hukum. Malu sama orang lain.

SI PUDIN : Eueueuh… kieu eta mah Gan; basa abdi ka sa Tek An, di dinyana aya jalmi duaan. Sami bade ngadamel serat uleman, tah duanana ge nu gaduh hajatna jenenganana teh ngaranggo SH. Numawi abdi gen urutan we, jenengan juragan di pengkerna nganggo SH. Da emutan abdi, pasti SH singkatan tina Sohibul Hajat.
Oooohhhh… begini Gan; waktu saya mencetak surat undangan, di sana ada dua orang, sama sedang mencetak surat undangan, di belakang namanya memakai huruf SH. Ingatan saya SH itu singkatan Sohibul Hajat.

JURAGAN : Nya kadangu ku Ibu? Jelas pan Si ieu mah jelemana pang ceuleupeungna sadunya?
Nah, terdengar sama Ibu? Jelas Si Pudi manusia paling beloon sedunia?

JURAGAN ISTRI: Ehm,na atuh ari maneh Pudin…
Ehm, kenapa kamu Pudin…..
Dari data di atas terungkap tentang adanya atasan dan bawahan. Teks tersebut menggambarkan tentang adanya batasan kekuasaan kaum ménak terhadap kalangan kaum cacah. Tokoh Juragan yang mempunyai karakter tegas, dan Juragan istri yang mempunyai karakter sabar merupakan representasi dari kalangan ménak. Tokoh Juragan mempunyai otoritas terhadap para pembantunya. Pembantu yang berada pada dominasi ménak harus bersedia menaati segala perintah ménak.
Napas kehidupan kaum ménak yang terdapat dalam DKJH sangat jelas terlihat dengan pemakaian istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan yang biasa digunakan (pada saat itu) seperti: Juragan, Juragan Istri, bos. Batasan kekuasaan tersebut merupakan sebuah penciptaan gaya hidup dengan struktur yang ketat dan koheren. Meski batasan kekuasaan ada dan mendominasi pada DKJH, tetapi batasan kekuasaan ini terbentuk juga oleh faktor ekonomi yang tentunya semakin mengkelas-kelaskan status sosialnya. Dalam DKJH Juragan dipertegas berada dalam posisi ménak melalui latar belakang ekonomi yang cukup atau bahkan lebih seperti dalam teks di bawah ini
(12;b)JURAGAN:Boga bujang teh ceuleupeung pisan. Kesel aing mah.
Punya pembantu beloon. Membuat kesal saja.

JURAGAN ISTRI : Ibu nu kesel mah. Nuju hajat kieu Bapa mah masih keneh ngemutan domba.
Ibu yang merasa kesal. Sedang sibuk begini masih saja bapak ingat sama kambing.

JURAGAN : Haaa…..r, nya enya atuh. Da eta mah domba mahal. Ieuh, bisi Ibu can nyaho, kamari domba nu hideung rek aya nu nukeauran ku motor!
Ya, itu pasti. Karena itu kambing mahal harganya. Eh, kalau ibu belum tahu, kemarin kambing yang hitam, mau ada yang menukarnya sama motor!

JURAGAN ISTRI : Bade digentosan ku motor? Naha atuh sanes dipasihkeun?
Mau di tukar sama motor. Kenapa tidak di berikan?

JURAGAN : Heueuh da ituna embungeun!
Iya, orangnya tidak mau!
JURAGAN ISTRI: Duka ah!sugan teh enya. Ieuh Bapa teh. Cik atuh ulah kabina-bina teuing resep ka domba teh. Batur mah ka kalantor, ieu mah enjing-enjing keneh, riweuh ngamandian domba. Ibu mah isin ku tatangga oge.
Yeh kirain benar. Eh, bapak jangan terlalu suka sama kambing. Orang lain pada ke kantor, bapak masih saja sibuk mengurus kambing. Ibu malu sama tetangga.

JURAGAN : Ah, naha make era. Ngamandian domba mah da wajar. Mun kitu isuk-isuk Bapa ngamandian tihang listrik, kakara era. Jeung deui, naha make era, da Bapa mah ngamandian domba ge make calana! Mun make kaos sangsang wungkul, ka handap teu make nanaon, eta kakara era.
Ah, kenapa harus malu. Memandikan kambing itu wajar. Kalau pagi-pagi bapa memandikan tiang listrik, baru ibu harus malu, lagian bapaknya juga pakai celana! Kalau pakai kaos saja ke bawah tidak memekai apa-apa baru itu malu.

JURAGAN ISTRI: Domba diadu-adu. Teu aya kawatir. Ieu Bapa! Cik ciptakeun, kumaha lamun Bapa janten domba?
Kambing di suruh berkelahi, tidak punya rasa kasihan. Eh, bapak! Coba bayangkan bagaimana kalau bapak jadi kambing?

JURAGAN : Is, teu bisa. Maenya aya domba hajat.
Is, tidak bisa. Masa ada kambing hajatan.

Latar belakang ekonomi bagi juragan yang termasuk golongan ménak dalam DKJH dapat dilihat dari kepemilikan atas hewan peliharaan yang dimiliki Juragan. Pada masyarakat pedesaan, cara masyarakat memandang status seseorang bisa dilihat dari kepemilikan tanah pertanian dan perkebunan serta hewan peliharaan. Atas dasar inilah penulis memasukan Juragan ke dalam golongan ménak.
Selain hal di atas alasan lain penulis memasukan tokoh juragan Sukatma ke dalam golongan ménak karena gelar” Juragan” yang disandangnya. Adapun sebutan lain yang bisa merepresentasikan ménak yaitu Radén dalam DKJH, hal tersebut dapat dilihat pada teks di bawah ini.
(12;c)JURAGAN: Terus di dieu ditulis ngaran dewek, Suminta. Naha di hareupna teu make R, Radén
Kemudian di sini ditulis nama saya, Suminta. Kenapa di depannya tidak memakai huruf R, radén.

JURAGAN ISTRI: Lah sawios teu nganggo R oge, Bapa. Teu aya sahurup wae mah, teu aya pangaruhna.
Wah biar saja tidak memakai huruf R juga, Bapak. Tak ada pengaruhnya.

JURAGAN : Is, ceuk saha? Ceuk saha euweuh pangaruhna? Leungit sahurup ge, bisa beda harti atuh.
Siapa bilang? Siapa bilang tidak ada pengaruhnya? Hilang satu huruf juga bisa beda artinya.

Pada data di atas terdapat sebuah persoalan mengenai gelar Radén yang enggan untuk ditinggalkan oleh Juragan Suminta. Juragan menganggap Gelar radén merupakan jati diri yang tidak bisa diubah atau dihilangkan. Semua ini terkait dari persepsi bahwa nama merupakan cara meng-ada seseorang. Apabila satu huruf saja yang hilang dari sebuah nama maka artinya pun akan berbeda. Data lain yang menunjukkan adanya upaya untuk mempertahankan gelar keradénannya terungkap pada data di bawah ini:
(12;d)TK KORAN: Bade koran Bapa?
Korannya pak?

JURAGAN : Naon Bapa? Na dewek teh Bapa silaing?
Apa, bapak? Memangnya saya ini bapak kamu?

TK KORAN : Oh, punten..bade koran Juragan?
Oh, maaf …korannya juragan?

JURAGAN : Taaa…h ….kitu atuh…
Naa..h begitu dong….
Nampaknya gelar radén yang disandang juragan Suminta ingin tetap dipertahankan. Pengaruh ideologi yang dianut oleh juragan Suminta telah membawanya untuk kukuh mempertahankan gelar keradénannya. Di sini bisa terlihat bahwa juragan Suminta bersikap feodalistis.
Jadi dalam DKJH, masyarakat yang merepresentasi kalangan menengah ke atas (ménak) diwakili oleh keluarga Juragan. Hal ini dilihat dari latar belakang kekayaan dan gelar yang disandang oleh Juragan tersebut di atas.
3.1.2 Kelompok Sosial Santana (Menengah)
Golongan Santana adalah golongan bangsawan kecil yang merupakan keturunan dari perkawinan antara seorang Radén dengan golongan yang lebih rendah. Namun, dalam teks DKJH hal ini tidak menjadi mutlak karena penulis beranggapan bahwa selain dari sisi gelar hasil dari perkawinan atau dari sisi ekonomi ada hal lain yang menjadi pertimbangan yaitu hak istimewa yang disandang oleh seseorang bisa dilihat dari latar belakang keilmuan. Dalam hal ini tokoh Ua di golongkan dalam kelompok santana dilihat dari teks DKJH bahwa Ua Lebé memiliki kelebihan dalam hal ilmu keagamaan diperkuat juga bahwa Lebé identik dengan orang yang mengurusi syarat dan ketentuan tentang pernikahan menurut agama. Dalam teks di bawah ini akan ditunjukkan saat tokoh Ua Lebé mengingatkan tokoh Ujé mengenai judi togel dilihat dari sisi agama
(12;a)UA LEBÉ : Eueueu…h, Alhamdulillah …cageur.
Eueueu,,,,h, Alhamdulillah….sehat

KANG UJÉ : Bade aya naon Ua ka dieu teh?
Ada keperluan apa Ua datang ke sini?

UA LEBÉ : Hah!?
Hah?

KANG UJÉ : Waa..h, cape aing mah Unéh! Sok sia wae nu nanya.
Wwaa,,,h, capek saya Unéh! Sudah kamu saja yang bertanya.
CEU UNÉH : Ua… yupikapaye yonetita ceprolemy…
Ua…yupikapaye dasfhsdfushfsdfshfs

UA LEBÉ : Ha!? Bobogohan jeung tukang lotek? Ulah kitu ah.
Apa? Selingkuh sama tukang lotek? Jangan.

KANG UJÉ : Haar…
Haar…

CEU UNÉH : Gremengmengkiluhehun…
Sdfgdsfhferufheghergh ……

UA LEBÉ : Sok masang togel? Montong. Judi eta teh. Mudhorotna leuwih loba tibatan alusna. Kudu dibasmi nu kitu mah
Suka judi togel? Janagn. Judi itu. Madharatnya lebih banyak daripada manfaatnya. Harus di basmi.

KANG UJÉ : Haar? Tapi Ua…brikikiksrtunggumbers lipucrek
Haaah? Tapi Ua…chbsdufhsfhfbdfb

UA LEBÉ : Montong ngaco atuh nyarita teh. Teu ngarti aing mah!
Jangan ngelantur kalau bicara. Saya tidak mengerti

KANG UJÉ : Beu! tobaaa…t Gusti……
Wah! Tobaaa…t

UA LEBÉ : Ua mah kadieu teh aya perlu, rek nganteurkeun surat Ondangan. Incu Ua rek di kawinkeun. Jang Ujé jeung Nyi Unéh Omat kudu datang. Bantuan Ua nya.
Ua datang ke sini ada kepentingan, mau memberi surat undangan. Cucu Ua mau menikah. Jang Ujé dan Nyi Unéh harus datang. Ua minta di bantu,.

KANG UJÉ : Oh kitu insya Alloh Ua.
Oh begitu isya Allah Ua.

CEU UNÉH : Upami aya ongkos mah abdi ge tangtos hadir Ua…
Kalau ada ongkos saya pasti hadir Ua…

UA LEBÉ NGODOK SAKU NGALUARKEUN SURAT ONDANGAN JEUNG DUIT.
UA LEBÉ MENGELUARKAN SURAT UNDANGAN DAN UANG DARI SAKUNYA.

UA LEBÉ : Taaa…h, ieu surat ondangan keur di dieu. Kade ulah nepi ka teu indit. Tah ieu duit…nu Ua ieu mah… kitu we nya… Assalamualaikuuuuu…m
Naa…h, ini surat undangan buat kalian. Awas jangan sampai tidak hadir. Nah ini duit… kalau ini uang Ua… begitu saja… assalamualaikuuuuu…m

KANG UJÉ : Wa alaikumsalaaa…m.
Waalaikumsalaaa…m.

UA LEBÉ KALUAR
UA LEBÉ KELUAR
KANG UJÉ : Ehm, keur teu boga duit teh, aya nu ngondang deuih. Ari teu datang, era ku Ua Lebé.
Ehm, mana tidak punya uang, ada undangan lagi. Kalau tidak datang, malu sama Ua Lebé.

CEU UNÉH : Nya heueuh atuh, kudu datang. Piraku diondang ku Ua Lebé, teu datang. Ari ka tukang lotek, teu diondang ge datang.
Ya iya, masa tidak datang, harus. Masa diundang sama Ua Lebé tidak datang. Masa sama tukang lotek tidak diundang juga datang.
KANG UJÉ : Aeh-aeh …geus balik deui ka dinya…Ieuh Unéh!
Aduh-aduh….sudah ke sana lagi…eh Unéh!
Teks di atas menunjukkan bahwa tokoh Ua Lebé adalah seorang sesepuh yang mencoba mengingatkan tentang larangan judi togel. Indikasi ini memperkuat bahwa tokoh Ua Lebé adalah orang yang dituakan di masyarakatnya dan disegani karena dianggap orang yang lebih tahu mengenai ilmu agama. Dengan diseganinya tokoh Ua Lebé oleh keluarga Kang Ujé menunjukkan bahwa tokoh Ua Lebé berada di posisi santana.
Dilihat dari latar belakang keilmuan yang dimiliki oleh Ua Lebé, penulis mengangkat Ua Lebé sebagai salah seorang yang menempati posisi Santana. Ua Lebé dihormati bukan karena kekayaan atau gelar yang dimilikinya, tapi atas dasar keilmuan yang membuat harkat dan martabatnya terangkat.

3.1.3 Kelompok Sosial Cacah (Bawah)
Cacah adalah sekelompok masyarakat kecil yang tidak mempunyai keistimewaan yang akan mengangkat atau memperoleh hak-hak yang istimewa dalam bermasyarakat. Selain itu, golongan atau kelompok sosial cacah merupakan kelas yang mempunyai kedudukan paling rendah. Dalam hal ini golongan cacah merupakan tingkatan terendah dalam stratifikasi sosial masyarakat Sunda. Sedangkan kelompok di atasnya mewakili kaum ménak dan santana. Di bawah ini akan diuraikan kehidupan masyarakat yang tergolong kelompok sosial cacah dihadirkan oleh pengarang dalam DKJH melalui para tokoh pelaku cerita.

3.1.1.1 Jang Kéméd dan Nyi Icih
Kehidupan keluarga Jang Kéméd digambarkan oleh pengarang sebagai keluarga yang serba kekurangan, penghasilan yang didapat dari mengayuh becak tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya, belum lagi kewajiban untuk membayar SPP sekolah anaknya yang hampir setiap bulan menunggak, hutang yang menggunung membuat Jang Kéméd kewalahan. Penggambaran tersebut sangat dominan dalam teks. Hal tersebut menggambarkan bahwa pada masa itu kaum cacah di masyarakat Sunda ada dan diakui keberadaannya, asumsi yang menggambarkan hal tersebut terungkap pada teks berikut:
(1;a) NYI ICIH : Aéh-aeh éta si jurig… Ieuh Kéméd! Aing mah ngénta duit sotéh keur mayar hutang. Da sia mah teu nyaho, nu nagih hutang mani rabul. Éra deuleu. (DKJH,2005:8)
Eh Kéméd! Saya minta duit untuk membayar hutang. Kamu tidak tahu, yang menagih hutang banyak sekali. Malu tahu.

Dari data di atas terungkap tentang sebuah gambaran mengenai kaum atau kelompok sosial cacah di masyarakat Sunda. Hal tersebut dipertegas dengan adanya contoh masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Pada teks “Aing mah ngénta duit sotéh keur mayar hutang” hutang merupakan sebuah penegas dari pengarang terhadap tokohnya mengenai gambaran keadaan itu. Tokoh Kéméd yang hidup serba kekurangan diangkat oleh pengarang sebagai representasi situasi masyarakat yang termasuk ke dalam golongan cacah. Selain data di atas indikasi yang mengacu kepada hal itu bisa dilihat dari situasi yang tercantum pada data di bawah ini :
(1;b)JANG KÉMÉD : Icih!Aing rék ngabéca, bisi aya nu nanyakeun béjakeun aing keur dines. Kadé ati-ati di imah.(DKJH,2005:7)
Icih! Saya mau menarik becak, kalau ada yang bertanya, Bilang saja, saya sedang dinas. Awas hati-hati di rumah.

Dari apa yang terungkap pada data di atas sangat kentara bahwa Jang Kéméd yang berprofesi sebagai tukang becak merepresentasikan masyarakat cacah. Dalam perspektif masyarakat Indonesia, sadar maupun tidak sadar posisi tukang becak ditempatkan sebagai golongan cacah. Hal yang mengacu kepada indikasi tersebut terdapat dalam situasi kehidupan tukang becak itu sendiri yang senantiasa selalu dililit materi.
Kekurangan materi yang dialami tukang becak yang direpresentasikan oleh tokoh Kéméd terungkap dari data di bawah ini.
(1;c)JANG KÉMÉD : Heueuh da kamari mah muatanana gé euweuh! Ti isuk jedur aing nungguan muatan euweuh saurang-urang acan. Aya éta ogé saurang, ngan teu ditarik ku aing mah. Jelema teu gableg pikiran. Teu kira-kira ngan ukur rek méré dua puluh rébu!(DKJH,2005:7)
Iya, kemarin penumpangnya juga tidak ada! Dari pagi saya menunggu penumpang, tidak ada seorang pun. Ada itu juga seorang, cuma tidak kutarik. Masa hanya memberi dua puluh ribu!

NYI ICIH : Aéh-aeh éta si jurig… Ieuh Kéméd! Aing mah ngénta duit sotéh keur mayar hutang. Da sia mah teu nyaho, nu nagih hutang mani rabul. Éra deuleu.(DKJH,2005:7)
aduh-aduh itu si kurang ajar. Eh Kéméd! Aku minta duit buat bayar hutang. Kamu tidak tahu, yang menagih hutang banyak. Malu tahu

JANG KÉMÉD: Aing nu tobat mah. Kakara gé rék indit nambangan, geus riweuh kuurusan nu nagih hutang…(DKJH,2005:8)
Saya yang tobat. Baru juga mau berangkat menarik becak sudah ribut urusan menagih hutang….

JANG KÉMÉD : Da aing mah nganjuk sotéh bakat ku butuh deuleu, lain hayang ditagih. Kabina-bina teuing jelema téh. Jaba nganjukeun jaba nagih. Teu gableg kaéra…(DKJH,2005:8)
Saya menghutang saking butuhnya, bukan mau ditagih. Keterlaluan, mana menghutangkan, mana menagih, tidak punya malu….

Himpitan ekonomi yang dialami Jang Kéméd dan Nyi Icih sebagai istri telah membuat mereka terjepit dalam hutang yang kian banyak. Hal ini merupakan penegasan bagi tokoh Kéméd dan Nyi Icih sebagai golongan cacah.

3.1.1.2 Kang Ujé dan Nyi Unéh
Tokoh-tokoh lain yang bisa mewakili representasi masyarakat cacah adalah tokoh kang Ujé dan Nyi Unéh. Kang Ujé sebagai suami dari Nyi Unéh yang berprofesi sebagai tukang tapai atau yang dalam bahasa Sunda biasa disebut peuyeum, Hal ini terungkap pada teks berikut:
(2;a)KANG UJÉ: Hee..h kieu Unéh ..heug, aing rek terus terang. Aing dagang deuyeum teh, hese payu. Saminggu katukang aing datang ka dukun, ceuk dukun lamun hayang payu, dina tanggungan peuyeum, kudu disimpanan potret awewe. Kabeneran aing nimu potret, diteundeun we dina tanggungan, kitu (DKJH,2005:31)

Ya sudah begini Unéh… aku mau terus terang. Aku menjual tapai tidak laku-laku. Seminggu ke belakang aku datang ke dukun, kata dukun, kalau mau laku, di tempat jualan tapai harus menyimpan potret, kebetulan aku menemukan potret itu, kemudian aku menyimpannya, begitu!

Data di atas menggambarkan profesi yang dijalankan kang Ujé adalah seorang tukang peuyeum cukup mewakili golongan cacah. Profesi yang satu ini merupakan profesi berdagang ekonomi kelas bawah yang penghasilannya tidak menentu. Masyarakat cacah yang selalu di representasikan sebagai masyarakat miskin selalu berhadapan dengan berbagai masalah kompleks sebagai akibat dari keterpurukan ekonomi, salah satunya di alami oleh tokoh-tokoh dalam DKJH. Keputusasaan kang Ujé dalam berdagang tercermin dari cara dia mengambil sikap dalam usahanya. Adanya intervensi dukun merupakan ciri dari hal tersebut. Sebab, Kang Ujé yang mulai putus asa karena dagangannya tidak laku. Situasi ini menggambarkan dampak ekonomi yang dialami oleh keluarga Kang Ujé yang berlanjut pada dampak psikis. Kegagalan Kang Ujé dalam berdagang mengakibatkan dirinya mengambil jalan pintas yaitu dengan cara mendatangi seorang dukun yang dianggapnya sebagai salah satu jalan untuk keluar dari keterpurukan masalah ekonomi yang menghimpitnya.
Indikasi lain yang memperkuat representasi kaum cacah dengan kelas ekonomi rendah adalah dengan adanya pemasangan judi togel, perhatikan teks berikut ini:
(2;b)CEU UNÉH: Gandeng jurig! Paingan atuh sia téh sok masang togél, da éta meureun butuh biaya keur bobogohan.
Diam!pantas kamu suka judi togel, butuh buat biaya selingkuh

KANG UJÉ : Sok, terus kamana waé sia nyarita téh.
Jangan suka ngelantur kalau bicara.
CEU UNÉH : Ah da heueeuh. Aing ogé nyaho sia téh sok masang togél!
Ah, saya juga tahu kamu suka judi togel!
KANG UJÉ : Iraha? Iraha aing sok meunang?
Kapan? Kapan saya menang?

CEU UNÉH : Gandeng Ujé! Aing ge nyaho, sia teh sok neangan kode togel. Tuh jeng si Entuy, nu biwirna jeding.
Diam Ujé! Saya juga tahu, kamu suka mencari kode togel. Sama si Entuy yang bibirnya sumbing.

CEU UNÉH : Enggeus gandeng Uji! Pidorakaeun wungkul siam ah. Selingkuh ongkoh, judi togel beuki. Seubeuh aing mah!
Sudah diam Ujé! Bikin dosa saja. Mana sudah selingkuh, judi togel lagi,

CEU UNÉH : Nu sok masang togel mah jelema teu baleg! Komo deui bandarnya mah. Jelemana teu eling!
Yang suka judi togel, orang kurang waras. Apalagi bandarnya. Orang gila.

CEU UNÉH : Lamun aing jadi pamarentah, di basmi ku aing mah juragan togel teh!
Kalau saya jadi pemerintah, bandar togel pasti saya basmi!

CEU UNÉH : Ah, henteu Cep. Pami bobogohan deui, komo disarengan sok masang togel, eta mah leres ngaganggu.
Ah, tidak cep. Kalau selingkuh, apalagi suka judi togel. Baru itu mengganggu.

Kutipan teks di atas menjelaskan kepada pembaca tentang keterpurukan masalah ekonomi yang dialami oleh keluarga Kang Ujé yang mencari rezeki dengan memasang togel. Togel merupakan salah satu permainan judi yang bisa melipatgandakan uang. Alternatif ini biasanya banyak digemari oleh kalangan masyarakat yang berada dalam garis kemiskinan, walaupun pada kenyataannya tidak sedikit orang-orang kaya yang menggemari permainan judi tersebut. Namun, dalam halnya Kang Ujé bermain judi tiada lain untuk menambah penghasilannya, perhatikan teks berikut:
(2;c)CEU UNÉH: Geus puguh dibere jalan neangan rejeki teh ku jalan dagang peuyeum, der masang togel. Matak sia jelema nu linglung mah.
Sudah jelas-jelas diberi jalan mencari rezeki dengan jalan jualan tapai, eh malah judi togel. Jadi kamu orang kurang waras.

Kaum cacah tidak hanya digambarkan oleh keadaan ekonominya saja, tetapi kaum cacah digambarkan oleh pengarang sebagai kaum yang berada di bawah kaum-kaum yang lebih tinggi. Dalam DKJH kaum cacah berada pada pengaruh ménak. Sebenarnya ménak adalah pelindung kaum cacah apabila dilihat dari kebersediaannya mempekerjakan kaum cacah.

3.1.1.3 Pudin
Tokoh Pudin diposisikan sebagai pesuruh dalam keluarga Juragan. Hal ini menunjukkan bahwa posisi Pudin berada di bawah Juragan. Karena pada kenyataannya ménak merupakan golongan masyarakat yang menempati posisi paling atas dalam stratifikasi sosial masyarakat Sunda.
(3;a)JURAGAN: Gara-gara si Pudin! Boga bujang teh, atah adol! Di sadunya ge moal aya jelema nu ceuleupeung jiga si Pudin.
Gara-gara si Pudin! Punya pembantu kurang ajar! Tidak ada duanya di dunia ini orang yang bloon seperti si Pudin.

JURAGAN :Boga bujang téh ceuleupeung pisan. Kesel aing mah.
Punya pembantu kurang ajar. Membuat kesal saja.

Pada ranah kekuasaan, sebenarnya kaum cacah bisa dikatakan sebagai kaum proletar. Cacah dipekerjakan sekaligus digaji oleh kaum ménak. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan seorang cacah sebagai pembantu rumah tangga tergolong ke dalam jenis pekerjaan bidang jasa.

3.1.1.4 Ijem
Tokoh lain yang dimunculkan oleh pengarang sebagai representasi dari kaum cacah yang berada di bawah kekuasaan kaum ménak adalah tokoh Ijem. Mereka yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga merepresentasikan kaum cacah. Dalam perspektif masyarakat Indonesia disadari atau tidak pembantu rumah tangga merupakan pekerjaan yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Hal tersebut terungkap pada data berikut:
Mana datana, Ep?
Dari percakapan itu dijelaskan posisi Ijem sebagai pembantu rumah tangga. Dari hal ini bisa ditarik kesimpulan bahwa Ijem yang bekerja sebagai pembantu dan senantiasa diperintah adalah seseorang yang termasuk golongan cacah. Hal itu juga dapat diperjelas dari data dan uraiannya di bawah ini:
(4;a)SI IJEM : Bade aya naon Juragan?
Ada apa Juragan?

JURAGAN : Haaa….r? Na saha nu nyalukan maneh Ijem?
Haa…h? Siapa yang menyuruh kamu ke sini?

SI IJEM : Saur Si Pudin abdi disaur ku Juragan……
Kata si Pudin saya di suruh menghadap Juragan

JURAGAN : Heunteu! Aing mah teu rumasa nitah. Geus indit ka dituh!
Tidak! Saya tidak merasa menyuruh. Sudah pergi sana!

URAGAN ISTRI: Ke haula Ijem! Cicing heula di dieu. Kami aya perlu! Ieuh Bapa…, Ibu mah sanes heureuy. Saur sepuh oge, jalmi mah kumaha amal perbuatan. Sok aya wartos; malim oray, paehna di pacok oray. Malim buaya paehna sok ku buaya….
Sebentar Ijem! Diam dulu di sini. Saya ada perlu! Eh,, bapak…., ibu tidak bercanda. Kata orang tua manusia itu tergantung amal perbuatan. Suka ada kabar; pawang ular, matinya digigit ular. Pawang buaya matinya digigit buaya….

JURAGAN : Lah! Geuning paraji, euweuh nu maotna digegel orok. Mun kitu mah, tukang lotek ge meureun maotna kudu direndos. Karunya we ka tukang cendol, maotna teh meuruen kudu dikocek.
Lah! Dukun beranak juga tidak ada yang matinya digigit bayi. Kalau begitu, tukang lotek juga matinya harus digerus. Kasihan sama tukang es campur, matinya harus di kocek.

JURAGAN ISTRI: Bapa mah ari dicandak nyarios saleres-leres teh sok kamana wae. Padahal kasauran sepuh eta teh, tos seueur kabuktosan. Seueur contona nya Ijem?
Bapak kalau di ajak bicara serius suka ngelantur kemana saja. Padahal itu pepatah orang tua. Banyak buktinya.

SI IJEM : Leres Juragan. Entong tebih-tebih, contona mah, aya tetangga abdi. Tukang ngala oray. Lima dinten ka pengker pupus. Emh, mani watir abdi mah.
Betul Juragan. Jangan jauh-jauh, contohnya, ada tetangga saya. Pawang ular. Lima hari ke belakang meninggal. Kasihan sekali.

JURAGAN ISTRI: Dipacok oray maotna teh nya Ijem?
Digigit ular meninggalnya Ijem?

SI IJEM : Sanes. Panyawat batuk gangsa.
Bukan. Penyakit batuk gangsa.

JURAGAN ISTRI: Haaaa…r? kumaha ari maneh, teu puguh…..
Haaaa…h? Kamu ini bagaimana. Tidak jelas

SI IJEM : Tapi tatangga pun Ua mah leres Gan, padamelan sadidintena tukang nguburkeun. Apan basa anjeuna maot ge, dikubur.
Tapi, tetangga Uak saya ini betul Juragan. Pekerjaan sehari-harinya menguburkan mayat. Waktu beliau meninggal juga dikubur.

JURAGAN : Haa….r! nya heueuh atuh. Beu! Jadi lieur aing mah. Geus indit maneh Ijem! Hayoh indiiii….t!
Iya, itu sudah pasti. Sudah pergi sana kamu Ijem! Cepat pergi….

Pada data di atas tertulis perkataan Ijem yang memanggil majikannya juragan. Dalam kosa kata bahasa Sunda juragan diartikan tuan besar. Sebutan juragan merupakan sebutan kehormatan bagi para orang keturunan ningrat. Namun pada perkembangannya juragan juga bisa dipakai oleh orang yang mempunyai kedudukan ekonomi yang cukup tinggi.
Dari paparan data di atas terungkap tentang gambaran tokoh Pudin dan Ijem sebagai representasi dari golongan kaum cacah. Penegas dari gambaran tersebut adalah adanya batasan status antara tokoh Pudin dan Ijem dengan tokoh juragan, tokoh Pudin dan Ijem yang bekerja sebagai pesuruh dari tokoh juragan merupakan sebuah penegas adanya faktor kekuasaan dari tokoh juragan terhadap tokoh Pudin dan Ijem.

3.1.1.5 Jang Ocim
Jang Ocim di hadirkan oleh pengarang sebagai representasi masyarakat cacah. Jang Ocim mempunyai karakter polos. Kehadiran Jang Ocim dalam cerita dihadapkan dengan permasalahan ekonomi. Hal ini mengindikasikan Jang Ocim berada dalam posisi kelas ekonomi menengah ke bawah. Latar belakang ekonomi Jang Ocim membentuknya menjadi anggota masyarakat yang tidak mempunyai keistimewaan dalam struktur sosial masyarakat. Seperti ysng terungkap pada teks berikut ini:
(5;a)JANG OCIM : Kieu ceu… kuring teh keur meunang karerepet. Keur susah. Rek menta tulung…
Begini….saya sedang kesusahan, mau minta tolong….
JANG KÉMÉD : Emh, beda kereteg ieu mah Icih… menta tulung naon euy?
Ehm, perasaanku beda Icih…
Minta tolong apa?

JANG OCIM : Nyaeta… e… budak kuring teh rek ujian. Ceuk guruna, moal bisa ngilu ujian, lamun can lunas heula uang bayaran.
Anak saya mau ujian. Gurunya bilang, tidak bisa mengikuti ujian kalau belum lunas bayaran sekolah

JANG KÉMÉD: Emh, Beuki deukeut yeuh kareteg hate teh. Terus?
Wah, perasaanku benar. Terus?

JANG OCIM : Tah… Maksud kuring teh, sugan we kabeneran Akang keur aya duit kuring rek ngajual entog. Ieu entog kuring, beuli ku Akang. Sapuluh rebu we Kang. Keur bayaran sakola budak..
Nah… maksud saya, siapa tahu Akang lagi punya duit, saya mau menjual bebek. Ini bebek saya. Sepuluh ribu saja, untuk bayar SPP sekolah anak saya.

NYI ICIH : Taaa…h kadenge Kéméd? Batur mah keur nyakolakeun budak teh nepi ka ngajual entog! Dengekeun tah ku ceuli teh.
Terdengar Kéméd? Mereka sampai menjual bebek demi sekolah anaknya! Dengar….

JANG KÉMÉD : Icih… Icih.. .nanaonan ari sia?
Icih… Icih… apa-apaan ini?

JANG OCIM : Emh, atuda lamun nepi ka eureun sakolana, rek kumahna budak ka hareupna?
Ehm, kalau sampai berhenti sekolah. Kasihan anak kita, bagaimana ke depannya?

Data di atas menegaskan kepada pembaca tentang posisi tokoh Jang Ocim sebagai representasi masyarakat yang berada di posisi cacah meskipun pada dasarnya manusia dapat di anggap sederajat, namun pembedaan atas lapisan sosial masyarakat merupakan gejala umum dan bagian sistem sosial masyarakat.

3.1.1.6 Dolé
Tokoh Dolé yang kesehariannya bekerja sebagai pesuruh, merepresentasikan kehidupan masyarakat kalangan menengah ke bawah. Hal ini diperkuat dengan adanya penjelasan dari pengarang melalui tokoh Dolé yang disuruh oleh Juragan Suminta untuk mengantarkan undangan. Seperti kutipan teks di bawah ini:
(6;a)SI DOLE : O iya…, Saya datang ke sini disuruh oleh Bos saya untuk menyampaikan undang-undang.
O iya…, Saya datang ke sini di suruh oleh Bos saya untuk menyampaikan undang-undang.

SI DOLE : O… Bos saya, Bapak Suminta mau menikahkan putranya, jadi beliau mau selamatan sekalian syukuran…(tertawa)
O… Bos saya, Bapak Suminta mau menikahkan putranya, jadi beliau mau selamatan sekalian syukuran…(tertawa)

Data di atas menjelaskan kepada kita tentang adanya batasan antara tokoh Juragan dengan tokoh Dolé, Dolé yang bekerja sebagai pesuruh menjadi bukti konkret bahwa Dolé termasuk pada golongan cacah dengan alasan dole berada di bawah kekuasaan juragan. Hal ini menjadi faktor pendukung bagi juragan dimasukkan ke dalam kategori ménak.

3.1.1.7 Nyi Inot
Kehadiran tokoh Nyi Inot dalam DKJH masih dalam rangka menunjukkan masyarakat kalangan menengah ke bawah. Hal ini terbukti dengan adanya dialog antara Nyi Inot dengan Ceu Unéh. Perhatikan teks di bawah ini:

(7;a)NYI INOT : Ieuh Eceu! Tadi kuring tas ti kota, papanggih jeung kang Ujé, keur lumpang duaan, jalan-jalan jeung awewe!
Eh Ceu! Tadi saya dari kota, bertemu sama Kang Ujé, sedang jalan kaki berdua, jalan-jalan sama perempuan!

CEU UNÉH : Jalan-jalan jeung awewe? Enyahan Nyi?
Jalan-jalan sama perempuan? Benar Nyi?

NYI INOT : Ih! Piraku kuring ngabohong, sumpahna oge daek turun Harga Elpiji. Enyaan Ceu! Kang Ujéna mah teu nyahoeun aya kuring, Da kahalangan ku tukang cendol.
Ih! Masa saya berbohong, berani turun harga elpiji. Betul Ceu! Kang Ujénya tidak tahu ada saya. Terhalangi oleh tukang es cendol.

CEU UNÉH : Ehm! Padahal mah, itung-itung ngawakilan Eceu, mun baledog we ku batu, tong asa-asa.
Ehm, padahal mewakili saya, lempar saja pakai batu. Jangan segan-segan.

NYI INOT : Tukang cendol? Ah, rek naon teu pupuguh maledog tukang cendol.
Tukang es cendol? Ah, buat apa saya melempar tukang es cendol

CEU UNÉH : Lain tuakng cendol…Si Ujé!
Bukan tukang es cendol….Si Ujé1

NYI INOT : Awewena teh make baju hejo Cek. Leumpangna oge make ditangkeup, tah dikieu Ceu..
Perempuannya memekai baju warna hijau, jalannya juga sambil digandeng. Nah begini

CEU UNÉH : Eta mah diangkat atuh…
Kalau itu diangkat……..

NYI INOT : Ah enya dikieu tah..
Oh iya begini….

CEU UNÉH : Emh Dasar lalaki atah adol. Puguh Euceu teh keur keuheul, Nyi Inot! Tadi peuting manggih potret awewe dina tanggungan peuyeum. Cik, ieu lain awewena nu jalan-jalan jeung si Ujé téh?
Ehm dasar laki-laki kurang ajar. Justru saya lagi kesal, Nyi Inot! Tadi malam saya menemukan foto perempuan. Ini bukan perempuan yang jalan-jalan sama Si Ujé?

NYI INOT : Haaa….r? Geuning ieu mah potret ucing ceu?
Hah…? Kok ini foto kucing?

CEU UNÉH : Is, salah ieu…., ieu yeuh.
Oh, salah… ini.

NYI INOT : Tah enya ieu ceu!
Nah iya betul Ceu!

CEU UNÉH : Ehm, nurustunjung eta si Uji. Ati-ati siah… tempokeun, lain turunan Garut lamun aing teu bisa ngalabrak lalaki nu ngarana Ujé!
Ehm, kurang ajar Si Ujé. Hati-hati,,lihat saja nanti, bukan turunan Garut kalau saya tidak bisa menghajar laki-laki bernama Ujé!

NYI INOT : Ari ceuk kuring mah, tong dipikirkan ceu, naon da awewena ge kitu geuning, geulis.
Menurut saya, jangan dipikirkan. Perempuannya juga cantik

CEU UNÉH : Nya heueuh meureun, matak si jurig Uji bogoheun ge.
Iya pasti, makanya Si Ujé selingkuh juga.

NYI INOT : Ah, tapi lain pedah hareupeun euceu. Enya ge geulis dibandingkeun jeung euceu mah, geulis itu.
Ah, bukan berarti saya berpihak sama Euceu. Walaupun itu cantik kalau di bandingkan sama Euceu, lebih cantik itu.

CEU UNÉH : Ati-ati sia Ujé …dikerewes siah ku aing mah…
Awas, Ujé… nanti saya hajar….

NYI INOT : Ah, ulah Cek, ulah di antep! E…atuh kuring permisi nya Ceu…
Ah, jangan Ceu, jangan di biarkan! Eh….saya permisi saja…..

CEU UNÉH : Enya atuh…nuhun Nyi Inot….
Iya… terima kasih Nyi Inot….

NYI INOT : Sami-sami Ceu…. Ieu potret ucing Euceu! Euceu mah mani rajin ngumpulkeun potret ucing.
Sama-sama Ceu….ini foto kucingnya! Rajin banget koleksi foto kucing.

CEU UNÉH : Is, lain nu euceu. Ieu mah nu budak Euceu si endut, Teuing ku naon budak teh resep pisan ngumpulkeun gambar Sasatoan. Malah pangreseppeunana mah ngumpulkeun gambar monyet.
Is, bukan punya Euceu. Punya Si Endut anak saya, tidak tahu kenapa anak saya suka koleksi foto hewan. Paling suka foto monyet.

Dilihat dari percakapan di atas jelas bahwa tokoh Nyi Inot tersebut dapat digolongkan ke dalam stratifikasi sosial cacah. Dilihat dari dialog antara kedua tokoh, tidak ada batasan yang membedakan golongan ménak dan cacah. Dalam hal ini penulis tidak menemukan data yang otentik yang menjelaskan bahwa Nyi Inot termasuk ke dalam golongan cacah atau ménak, namun penulis berasumsi bahwa Nyi Inot dapat termasuk ke dalam golongan cacah. Hal ini terbukti dari dialog Nyi Unéh yang mendukung keberadaan Nyi Inot dalam golongan cacah.

3.1.1.8 Encuy
Tokoh Encuy hadir dalam cerita dengan maksud mencari alamat kakaknya. Meskipun tidak terdapat teks yang menjelaskan bahwa dirinya termasuk golongan cacah, namun dalam keseluruhan dialog Encuy mengindikasikan bahwa dia tidak termasuk dalam kategori santan atau ménak, seperti dalam teks di bawah ini:
(8;a)CEP ENCUY : Ieu… abdi teh nuju milarian pun lanceuk. Manawi uninga bumina… Pa Suroto?
Ini… saya lagi mencari kakak saya. Barangkali tahu rumahnya… . Pak Suroto?

KANG UJÉ : Suroto?
Suroto?

CEU UNÉH NGABEDOL DEUI KANG UJÉ. NGAHAREWOS
CEU UNÉH MENARIK LAGI TANAGAN KANG UJÉ. BERBISIK

CEU UNÉH : Tuh ngaran lanceukna mah alus. Suroto. Naha ari manehna Encuy? Naon Encuy…..
Tuh nama kakanya bagus, Suroto, kenapa dia namanya Encuy? Apa Encuy…..

KANG UJÉ : Beu ari sia kumah nya…..Su….ro…to
Kamu ini bagaimana Su……ro….to

CEP ENCUY : Sumuhun ari sadidinten sok disarebat Pa Oot. Oot Suroto
Iya kalau sehari-harinya biasa di panggil Pa Oot. Oot Suroto

KANG UJÉ : Oot…………Unéh! Cik sugan sia apal. Nyaho henteu ka Pa Oot?
Oot………..Unéh! barangkali kamu tahu. Tahu tidak sama Pak Oot?

CEU UNÉH : Nya enya atuh, nyaho pisan. Oot teh lemesnya tina nginum; abdi hanaang, teu kiat hoyong oot!
Ya iya pasti, tahu sekali. Oot itu minum saya haus ingin minum!

KANG UJÉ : Eueut eta mah! Montong di hareupeunana atuh!
Jangan bercanda kamu!

CEU UNÉH : Ke… ke,.. dupi raka teh, kumaha dedeganana Cep?
Sebentar… bagaimana badannya Cép?

CEP ENCUY : Oh. jangkung hideung, dikaca soca. Kumisan.
Oh, hitam tinggi, berkumis, pakai kaca mata.

CEU UNÉH : Euh…mun ti tadi Encep. Atuh eta mah teu tebih bumi na ge. Ti dieu mah kinten-kinten saratus meter. Ngetan we. Engke aya bimi cet hejo. Di payuneunana, aya tangkal jambu aer.
Kenapa tidak bilang dari tadi Encép. Tidak jauh rumahnya juga. Kira-kira seratus meter. Ke timur saja. Nanti ada pohon jambu. Rumahnya pakai cat warna hijau.

CEP ENCUY : Alhamdulillah…..Leres jalmina jangkung hideung?
Alhamdulillah….betul orangnya tinggi hitam?

CEU UNÉH : Ah henteu. Pendek lintuh.
Ah tidak. Pendek gendut.

CEP ENCUY : Dikaca soca? Kumisan?
Pakai kaca mata? Berkumis?

CEU UNÉH : Ah, henteu….
Ah, tidak…..

CEP ENCUY : Tapi leres janenganana mah Pa Oot Suroto?
Tapi benar namanya Pa Oot Suroto?

CEU UNÉH : Sanes, Mahpudin!
Bukan, Mahpudin!
]
Seperti yang telah dibahas sebelumnya golongan santana atau ménak memiliki keistimewaan di tengah masyarakat menyangkut ekonomi, kekuasaan dan jabatan. Karena teks tidak menunjukkan Encuy memiliki salah satu dari ketiga hal tersebut, maka penulis memasukan Encuy pada kategori cacah.

3.1.1.9 Ceu Iroh
Tokoh lain yang ditampilkan oleh pengarang sebagai bukti yang memperkuat adanya masyarakat cacah yaitu tokoh Ceu Iroh, tokoh Ceu Iroh termasuk ke dalam golongan cacah. Untuk mengungkap asumsi tersebut, perhatikan teks di bawah ini:
(9;a)CEU IROH: Euleuh-euleuh geuniang nyi Unéh jeung Jang Ujé….tos ti marana ieu teh?
Aduh-aduh Nyi Unéh dan ang Ujé…..dari mana?
CEU UNÉH : Teu ti mana-mana. Di dieu ti tatadi ge Ceuk…
Tidak dari mana-mana di sini dari tadi juga Ceu…

CEU IROH : Ehm, hampura nya. Puguh euceu teh kakara jol pisan. Tos ngarambet. Ke atuh dagoan, urang nyieun kopi nya?
Ehm, maaf ya. Baru saja saya datang dari sawah. Sebentar ya tunggu, kita bikin kopi ya?

KANG UJÉ : Haa….r?
Haa….h?

CEU IROH : Is! Atuh geus kewajiban Euceu we, ngahormat semah.
Is! Itu kewajiban saya menghormat tamu.

CEU UNÉH : Semah!?
Tamu?

CEU IROH : Nya apanan Euceu teh nu boga imah…
Iya kan saya yang punya rumah….

KANG UJÉ : Nu boga imah? Haa…r ieu mah imah kuring Cek!
Yang punya rumah? Haa…h ini rumah saya!

CEU IROH : Imah Jang Uji?
Rumah Jang Ujé?

CEU UNÉH : Enya. Imah kuring!
Iya. Rumah saya!

Indikasi yang menegaskan bahwa Ceu Iroh termasuk golongan cacah adalah dengan adanya kata ngarambét. Dalam istilah bahasa Sunda ngarambét merupakan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh petani atau buruh tani untuk menggarap sawahnya.

3.1.1.10 Tukang Koran
Profesi yang disandang oleh tokoh ini adalah berjualan koran, artinya pengarang tidak lagi menyuguhkan representasi masyarakat kalangan bawah dengan embel-embel segala kekurangan ekonomi yang dihadapi oleh para tokohnya, di sini pengarang langsung menyuguhkan bahwa dengan profesinya tokoh ini representasi dari masyarakat dengan penghasilan yang tidak menentu.
(10;a)TK KORAN :Koran…koran…berita hangat…koran…
Koran…koran…berita hangat….koran

JURAGAN : Emh, batur keur hajat, der di tawaran koran….
Ehm, orang lain sedang hajatan, ini menawarkan koran….

TK KORAN : Bade koran Bapa?
Koran bapak?

JURAGAN : Naon Bapa? Na dewek teh Bapa silaing?
Apa bapak? Memangnya saya bapak kamu?

TK KORAN : Oh, punten..bade koran Juragan?
Oh, maaf.. korannya Juragan?

JURAGAN : Taaa…h ….kitu atuh…
Nah….begitu dong…

TK KORAN : Berita hangat Juragan. Seorang perampok ganas ditangkap.
Berita hangat Juragan. Seorang perampok ganas di tangkap.

JURAGAN : Perampok ganas? Haa….r? keur naon ngarampog ganas? Ganas mah di kebon dewek ge loba. Teu kudu ngarampog.
Perampok ganas? Haaa..h? buat apa merampok nanas? Nanas banyak di kebun saya. Tidak perlu merampok.
TK KORAN : Berita hangat Gan; seorang pejabat diduga terlibat korupsi.
Berita hangat Gan; seorang pejabat diduga terlibat korupsi.

JURAGAN : Haaa…r? naon anehna. Ke lamun aya berita; seorang pejabat diduga jujur sekali, tah eta beritakeun ka dewek! Ieuh, ayeuna dewek keur hajat. Aya beritana euweuh dina koran?
Haaa…h? Apa anehnya. Kalau ada berita; seorang pejabat di duga jujur sekali, itu baru beritakan pada saya! Sekarang saya sedang pesta. Ada beritanya di koran?

TK KORAN : Teu aya Gan…
Tidak ada Gan…
Penghasilan yang tidak menentu ini indikasi dari kalangan masyarakat ekonomi lemah dan dapat dimasukkan pada kategori kelas sosial terendah atau cacah.

3.1.1.11 Dudung, Udin dan Acéng
Ketiga tokoh yang di tampilkan di sini memiliki profesi yang sama yaitu Hansip. Meskipun hansip adalah sebuah jabatan di masyarakat dalam segi keamanan dan ketertiban, namun jabatan ini tidak mendukung bahwa ketiganya termasuk ke dalam golongan santana atau ménak karena seperti yang telah kita ketahui dalam masyarakat kita profesi hansip lebih ke profesi yang bersifat sosial. Perhatikan teks di bawah ini:

DUDUNG JEUNG UDIN ARASUP. MARAKE SARAGAM HANSIP.
DUDUNG DAN UDIN MASUK. MEMAKAI SERAGAM HANSIP.
(11;a)DUDUNG & UDIN: Assalamuallaiku…m
Assalaamuallaiku…m

JURAGAN ISTRI : Waalaikumsalaaaa…m
Waalaikumsalaaaa…m
JURAGAN : Taa….h geuning, paranjang umur Euy! Karek ge diomongkeun. Daratang. Duaan wae euy? Kamana ari si Aceng.
Na…h ternyata, panjang umur! Baru saja di ceritakan. Pada datang. Berdua saja? Ke mana Si Acéng.

DUDUNG : Tadi ku abdi duaan. Disampeur ka bumina. Nuju rame Gan, pasea sareng Istrinya. Rupina mah engke tangtos ka dieu, upami paseana parantos beres.
Tadi kami berdua. Menyusul ke rumahnya. Sedang bertengkar sama istrinya. Sepertinya pasti ke sini, kalau pertengkarannya selesai.

JURAGAN : Heueuh keun wae. Kade euy! Jalankeun tugas sing ati-ati!
Ya sudah biarkan saja. Awas! Hati-hati menjalankan tugas!

DUDUNG : Siap Bos!
Siap Bos!
Jadi, di sini penulis menempatkan ketiga tokoh Hansip tersebut ke dalam masyarakat cacah. Profesi hansip lebih bersifat sosial, bukan jabatan atau kedudukan yang bisa mengangkat harkat dan martabat seperti yang dialami oleh tokoh Juragan di atas.
Dari kutipan-kutipan teks di atas dapat menunjukkan bahwa dalam DKJH terdapat masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, yaitu masyarakat cacah. Hal ini terbukti dengan adanya masyarakat yang mengalami keterpurukan ekonomi.

3.1.4 Kelompok Sosial Religi
Pada DKJH di dalamnya tidak luput dari eksistensi masyarakat religi. Walaupun sedikit diungkapkan namun eksistensi pemuka agama dinilai sangat penting dalam menopang alur cerita. Tokoh-tokoh yang mewakili kelompok sosial religi adalah Pa Ustad dan Ua Lebé.
Eksistensi seorang ustad dirasa begitu penting ketika seseorang butuh protokol sekaligus pembimbing spiritual dalam acara tertentu. Hal itu terungkap pada teks berikut:
(13;a)JURAGAN ISTRI:Sanes nanaon pa. Bieu Ustad Iim nelepon ka Ibu sasadu, cenah anjeuna moal tiasa janten protokol. Ngadadak nyeri waos.
Bukan apa-apa pak. Tadi Ustad Iim menelepon pada Ibu minta maaf, katanya beliau tidak bisa menjadi protokol. Mendadak sakit gigi.

Tokoh Ustad Iim mewakili kelompok sosial religius. Eksistensi ustad Iim sendiri bisa dilihat dari kebutuhan juragan yang tertuju padanya. Juragan memerlukan dia untuk menjadi protokol.
Selain Ustad Iim ada juga Ua Lebé yang dinilai cukup mewakili kelompok religius. Seperti yang telah dibahas sebelumnya tentang Ua Lebé, lebé mempunyai otoritas dalam kaitannya dengan pernikahan dan keagamaan. Selain itu, tokoh Ua Lebé dalam DKJH dianggap sebagai sesepuh yang paham akan agama. Kepahaman Ua Lebé terhadap agama tergambar dari kemampuannya untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk, contohnya larangan togel yang bisa mendatangkan mudhorot.
(13;b)UA LEBÉ: Sok masang togel? Montong. Judi eta teh. Mudhorotna leuwih loba tibatan alusna. Kudu di basmi nu kitu mah.
Suka judi togel? Jangan. Itu judi. Mudhorotnya lebih besar daripada manfaatnya. Hal seperti itu harus di basmi.

Dari data-data di atas terungkap mengenai adanya gambaran kelas sosial masyarakat religi. Gambaran tentang Islam digambarkan oleh pengarang sangat kental seperti dari adanya kata-kata yang biasa digunakan dalam agama Islam. Hal tersebut mungkin dijadikan pengarang sebagai realitas masyarakat Sunda yang menganut ajaran agama Islam. Kehidupan masyarakat Sunda saat itu digambarkan dalam DKJH sebagai masyarakat yang beragama.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa dalam DKJH terdapat empat kelompok masyarakat yang menempati struktur sosial dalam masyarakat Sunda, yaitu menak, santana, cacah, dan kelompok sosial relijius. Keempat kelompok tersebut mempunyai hubungan yang berkesinambungan. Di sini terjadi proses simbiosis mutualisme di mana satu kelompok saling menarik atau memanfaatkan pihak lain.

3.2 Hubungan Posisi Pengarang dan Kelompok Sosial

3.2.1 Pengarang Bergelar Radén
Pengarang DKJH bergelar Radén. Gelar tersebut mencerminkan posisi beliau dalam masyarakat sebagai kaum ménak yang cenderung lebih di hargai oleh masyarakat lainnya. Gelar radén ini umumnya diperoleh dari berbagai cara, yaitu gelar yang diwariskan karena turun-temurun, gelar yang diperoleh karena jasa atau pengabdian kepada pemerintah yang biasanya menyertai suatu promosi jabatan dan diperoleh dari perkawinan dengan wanita dari kalangan bangsawan. Dalam suku Sunda garis keturunan radén menurut sistem patrilineal atau menurut garis keturunan ayah. Hal ini menunjukkan bahwa Kang Ibing memang keturunan Radén. Hal tersebut terlihat dari nama kebangsawanan (Radén) Kusumadinata. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pribadi Kang Ibing terdapat kultur keradénan yang tidak bisa dihindari. Kusumatdinata adalah nama Radén perwakilan kaum ménak Sumedang. Nama ini banyak digunakan oleh bupati-bupati Sumedang. Bertolak dari data di atas, tentunya pengarang, baik di sadari atau tidak, telah menuangkan aspek-aspek kebangsawanan dalam karyanya. Hal tersebut terungkap pada teks berikut ini:
(14;a)JURAGAN : Terus di dieu di tulis ngaran dewek, Suminta. Naha di hareupna teu make R,Radén.
Terus di sini ditulis nama saya, Suminta. Kenapa di depannya tidak pakai huruf R. Radén

JURAGAN : Is, ceuk saha? Ceuk saha euweuh pangaruhna? Leungit Sahurup gé, bisa beda harti atuh. Gera wé UCING, leungitkeun hurup G-na jadi UCIN jadi béda. Ucing mah sato, ari Ucin mah tukang cukur! Pan béda jauh. Maenya Ucin ngadaharan beurit. Teu kira-kira dimana aya tukang cukur dahar beurit.

Is, siapa bilang? Siapa bilang tidak ada pengaruhnya? Hilang satu huruf juga, bisa beda arti. Coba saja UCING (kucing) hilangkan huruf G-nya jadi UCIN jadi beda. Ucing itu binatang, sedangkan Ucin itu tukang pangkas rambut! Jadi beda jauh. Masa Ucin makan tikus. Di mana ada tukang pangkas rambut makan tikus.

Teks di atas menjelaskan bahwa gelar Radén besar pengaruhnya terhadap strata sosial. Seperti disebutkan di atas bahwa Kang Ibing secara tidak langsung ingin menunjukkan identitas keradénannya lewat DKJH.

3.2.2 Hubungan Pengarang dengan Kaum Penguasa (Maesenas)
Ditinjau dari sejarah kepengarangan, seorang seniman atau pengarang selalu terkait dengan para sponsor. Dalam konteks ini sponsor bisa juga dikatakan sebagai maesenas. Maesenas merupakan sebuah kalangan yang mencintai seni sekaligus memanfaatkan seni. Mereka memanfaatkan seni untuk kegiatan politik.
Para maesenas menampilkan atau mengiklankan dirinya melalui karya sastra yang dipesannya kepada pengarang. Pengarang diintervensi oleh maesenas untuk membuat karya yang ada hubungannya dengan ideologi maesenas. Pada batasan ini pengarang seolah-olah dilarang untuk membuat karya yang mengandung kritikan terhadap maesenas.
Dalam hubungannya dengan kaum maesenas, pengarang sama sekali tidak ada ikatan yang membatasi pengarang untuk berekspresi, hal ini menunjukkan bahwa pengarang bebas mengeluarkan pendapat dalam karyanya.
Pada konteks DKJH pengarang tidak terintervensi oleh suatu maesenas. Kang Ibing sebagai pengarang yang independen begitu bebas dan leluasa dalam memasukan realitas sosial yang terjadi pada masyarakat Sunda dewasa ini. Termasuk saat pengarang mengkritik para pejabat dan penguasa. Seperti terungkap pada teks berikut ini:

(15;a)CEUIROH: Astagfirullah… Gusti nu maha Suciiiii…. Euceu teh salah asup. Naha bet los-los ka imah batur. Rarasaan teh imah Euceu. Emh, hampura Jang Ujé, …. hampura Nyi Unéh. Sakali deui, hampura Euceu, nepi ka linglung… boa-boa Euceu teh rek jadi pejabat.

Astagfirullah… Tuhan yang maha suciiiii…. Euceu salah masuk. masuk ke rumah orang lain. Perasaan ini rumah Euceu. Ehm, maaf Jang Ujé, … maaf Nyi Unéh, maafkan Euceu, sampai bisa linglung… jangan-jangan mau jadi pejabat.

CEU IROH : Ah, da enya. Jelema galede. Anu baroga jabatan. Pejabat geuning sok ayan nu linglung
Ah, iya. Orang besar. Yang punya jabatan, pejabat juga ada yang linglung

KANG UJÉ : Naon ari Euceu? Teu pupuguh, los-los ka pejabat.
Apa maksudnya? Tiba-tiba membicarakan pejabat.
CEU UNÉH : Linglung kumaha ari Euceu?
Linglung bagaimana Euceu?

CEU IROH : Enya, geura sok pikiran; dibere jabatan teh meureun, keur ngurus masyarakat. Keur kama’muran rakyat. Ieu mah der digunakeun keur kama’muran beuteung sorangan. Kapan jelema linglung eta teh. Tah ayeuna Euceu nggeus linglung, mudah-mudahan we sing jadi pejabat.

Iya, coba pikir, di beri jabatan untuk mengurus masyarakat. Untuk kemakmuran rakyat. Malah digunakan untuk kemakmuran perut sendiri. Bukankah itu linglung. Nah sekarang Euceu sudah linglung, mudah-mudahan saja jadi pejabat.

Percakapan di atas menjelaskan bagaimana keadaan para pejabat yang linglung, lupa akan tugasnya. Pada teks di atas, tokoh-tokoh dalam DKJH menggambarkan kekecewaannya sebagai rakyat bawah akan pemimpinnya. Seperti tokoh Ceu Iroh yang membuat metafor dari dirinya yang linglung. Dirinya yang linglung merupakan metafor bagi para pejabat yang linglung.
Linglung-nya para pejabat tergambar dari sikap yang mementingkan diri sendiri. Mereka yang diberi jabatan memanfaatkan jabatannya untuk kemakmuran perut sendiri tanpa memperhatikan orang-orang yang terhimpit, terjepit tanpa sempat menjerit.
Vulgarnya kritikan di atas merupakan wujud kebebasan pengarang dalam mengungkap realitas. Pokok lainnya yang mengarah pada sebuah kritik yang di munculkan pengarang seperti data yang tercantum di bawah ini.
(15;b)KANG UJÉ: Ehm, bener ceuk Ceu Iroh bieu. Ayeuna mah loba jelema linglung. Mudah-mudahan we para wakil rakyat mah ulah nepi ka linglung.

Ehm, benar juga kata Cek Iroh tadi. Sekarang banyak orang linglung. Mudah-mudahan saja wakil-wakil rakyat jangan sampai linglung.

CEU UNÉH : Naon ari sia jig-jig ka wakil rakyat?
Memang kenapa dengan wakil rakyat?

KANG UJÉ : Ah, da heueuh! Geura we, apan ari wakil rakyat jelema palinter. Ieu mah dina sidang nepi ka bukbek garelut. Padahal dina rapat RT ge, euweuh nu kitu. Ngerakeun! Mere conto teu bener. Atuh ari dina sidang kudu aya gelutan mah meureun salah sahiji sarat mun rek jadi wakil rakyat teh, kudu bisa penca. Teh tetela, nu di laluhur nu linglung mah!

Ah, memang benar! Coba, wakil rakyat orang pintar. Kok di dalam sidang sampai berkelahi. Padahal dalam rapat RT juga,tidak ada yang seperti itu. Memberi contoh yang salah. Kalau dalam sidang harus ada perkelahian, kalau begitu salah satu syarat mau jadi wakil rakyat, harus bisa silat? Ternyata orang-orang yang di atas yang linglung.

Percakapan di atas lebih terasa vulgar karena hal tersebut mengacu kepada sekelompok golongan pejabat. Pejabat itu adalah para wakil rakyat. Kritikan ini terinspirasi dari para wakil rakyat di DPR yang adu jotos hanya demi kepentingan pribadi atau golongan bukan atas aspirasi masyarakat banyak. Wakil rakyat sebagai pejabat publik hendaknya memberi contoh yang baik kepada rakyat. Itulah keberanian pengarang yang disokong oleh kebebasannya yang tidak terikat oleh para maesenas atau pejabat.

3.3 DKJH dengan Semangat Jaman
Untuk dapat menggali kondisi sosial masyarakat Sunda, penulis tidak hanya berpijak pada teks DKJH saja, akan tetapi menghubungkannya pula dengan beberapa referensi yang ada di luar DKJH.
Sebagai fakta kemanusiaan, karya sastra merupakan respons suatu subjek terhadap situasi dan lingkungan di sekitarnya. Lingkungan itu sendiri dimasukkan sebagai kondisi atau struktur sosial dan ekonomi yang ada di mana sang subjek itu hidup.
Berdasarkan waktu yang dipaparkan oleh pengarang dalam DKJH, dapat diperoleh keterangan bahwa kondisi sosial masyarakat yang terdapat dalam DKJH ini adalah cerminan masyarakat Sunda pada abad XXI. Penulis menyimpulkan asumsi ini berdasarkan terbitnya DKJH ini yaitu tahun 2005.
Pembahasan mengenai realitas sosial suatu masyarakat, tak bisa lepas dari fakta ekonomi, politik, dan budaya masyarakat tersebut. Oleh karena itulah, di sini penulis akan mengungkapkan ketiga fakta tersebut dalam rangka mengungkap realitas sosial dan budaya masyarakat Sunda dalam DKJH.

3.3.1 Fakta Ekonomi
Sebagai bangsa Indonesia pada umumnya, sebagian besar masyarakat Sunda mendasarkan mata pencahariannya pada hasil pertanian, peternakan, perdagangan, dan sebaginya. Perekonomian bangsa Indonesia pada tahun 2005 mengalami kemerosotan yang cukup tajam, hal ini terbukti dengan adanya kenaikan harga BBM yang sangat ramai dipergunjingkan pada saat itu, kenaikan harga BBM pada waktu itu mencapai 40% (Pikiran Rakyat, 2004:1-6) diikuti oleh kenaikan harga elpiji. Kemerosotan perekonomian dalam DKJH ini dengan jelas dipaparkan oleh pengarang. Dalam drama tersebut digambarkan bagaimana masyarakat bertahan hidup dan bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhannya. DKJH ini menggambarkan kekurangmapanan kondisi perekonomian sebagian strata sosial, khususnya golongan masyarakat menengah ke bawah. Coba perhatikan teks berikut
(16;a)NYI INOT: Ih! Piraku kuring ngabohong, sumpahna oge daek turun Harga Elpiji. Enyaan Ceu! Kang Ujéna mah teu nyahoeun aya kuring, Da kahalangan ku tukang cendol.
Ih! Masa saya berbohong, sumpah, berani turun harga elpiji. Benar Ceu! Kang Ujénya tidak tahu ada saya, terhalangi oleh tukang cendol.

Naiknya harga Elpiji merupakan suatu metafor dari pengarang untuk menunjukkan bahwa perekonomian pada saat itu tidak stabil. Secara garis besar, DKJH menggambarkan kondisi ekonomi golongan menengah ke bawah pada saat itu. Kemiskinan cukup diderita oleh masyarakat kecil. Di antara mereka bahkan ada yang menjual sadel becak untuk sebagai salah satu alternatif pemenuhan kebutuhannya. Inilah gambaran realitas sosial masyarakat Sunda dalam DKJH pada saat itu ditinjau dari segi perekonomian.

3.3.2Fakta Keagamaan (Religi)
Karya sastra tak bisa lepas dari aspek budaya yang melatarbelakanginya. Salah satu aspek itu adalah keagamaan atau religius. Aspek keagamaan yang terdapat dalam DKJH ini adalah kehidupan masyarakat yang beragama Islam. Di antara berbagai suku di Indonesia, masyarakat Sunda adalah salah satu suku yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini terbukti dengan adanya istilah keagamaan yang biasa di gunakan masyarakat yang beragama islam seperti terungkap pada teks berikut:
JURAGAN ISTRI ASUP SARUA MAWA HP
JURAGAN ISTRI MASUK SAMA MEMBAWA HP

(17;a)JURAGAN ISTRI: Sumuhun. Caket Bapa.
Benar, dekat bapak.

JURAGAN : Astagfirullah…nanaonan ari Ibu?
Astagfirullah…ibu kenapa?

JURAGAN ISTRI: Ari petugas keamanan tos sarumpingPa?
Petugas keamanan sudah datang pa?

JURAGAN : Enya. Kuduna mah geus daratan. Kamarana nya?
Iya. Seharusnya sudah datang. Pada ke mana ya?

DUDUNG JEUNG UDIN ARASUP. MARAKE SARAGAM HANSIP.
DUDUNG DAN UDIN MASUK MEMAKAI SERAGAM HANSIP.

DUDUNG & UDIN: Assalamuallaiku….m
Assalamuallaiku…m

JURAGAN ISTRI: Waalaikumsalaaaa…m
Waalaikumsalaaaa..m

Pada data-data di atas menjelaskan kepada kita tentang adanya kehidupan beragama, di sini pengarang menggunakan kata salam sebagai wakil dari masyarakat yang beragama. Dalam masyarakat Sunda, pembahasan mengenai tokoh Ustad dalam dialog Juragan dan istrinya biasanya dianggap sebagai salah seorang yang mempunyai ilmu keagamaan, namun ada istilah lain juga yang dikenal masyarakat dengan sebutan Kiai atau Ajengan. Kehidupan masyarakat Sunda digambarkan dalam DKJH sebagai masyarakat yang beragama.

3.3.3 Fakta Politik
Masalah politik mempunyai ruang lingkup menyangkut bidang ketatanegaraan, struktur pemerintahan dan dasar pemerintahan, hubungan suatu negara dengan negara lain, serta kebijaksanaan pemerintah. Namun di sini penulis hanya akan menggambarkan masalah politik secara umum, sesuai dengan apa yang tertera dalam teks DKJH. Korupsi yang saat ini gencar diberantas banyak melibatkan aparatur pemerintah dan anggota dewan. Dalam DKJH pengarang mencoba untuk menyindir kebobrokan aparatur dan anggota dewan tersebut. Seperti yang terdapat dalam teks.
(18;a)JURAGAN: Tong dikeprokan, da sim kuring teh lain japati. Lamun Bapa ngadengé Yen maneh korupsi, ngadahar duit rakyat, dewek moal cicingen. Kanjeun minantu disiksa ku dewek mah. Na dikirana dewek sieun? Pedah silaing budak ngora? Tong peupeuleukeuk silaing bisi dijebrod ku dewek! Kaharti? Sakitu sambutan ti sim kuring. Hatur nuhun.
Jangan tepuk tangan, saya bukan burung merpati. Kalau bapak mendengar kamu korupsi, memakan uang rakyat, bapak tidak akan tinggal diam. Walaupun menentu akan saya siksa. Memengnya saya takut, kamu anak muda? Jangan berangasan kamu mau disiksa sama saya! Mengerti? Sekian sambutan dari saya. Terima kasih.

Politik identik dengan kekuasaan, di sini pengarang pun mencoba memberikan gambaran pada masyarakat tentang fakta bahwa seseorang yang haus kekuasaan akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Pengarang juga menggambarkan bahwa para anggota dewan belum begitu sadar bahwa kehadiran mereka di DPR/MPR adalah pemegang amanat dari rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. seperti yang ditunjukkan teks.

(18;b)KANG UJÉ: Ehm, bener ceuk Ceu Iroh bieu. Ayeuna mah loba jelema linglung. Mudah-mudahan we para wakil rakyat mah ulah nepi ka linglung.
Ehm, betul kata ceu Iroh barusan. Sekarang banyak orang yang linglung. Mudah-mudahan para wakil rakyat jangan sampai linglung.

CEU UNÉH : Naon ari sia jig-jig ka wakil rakyat?
Kenapa kamu tiba-tiba membicarakan wakil rakyat?

KANG UJÉ : Ah, da heueuh! Geura we, apan ari wakil rakyat jelema palinter. Ieu mah dina sidang nepi ka bukbek garelut. Padahal dina rapat RT ge, euweuh nu kitu. Ngerakeun! Mere conto teu bener. Atuh ari dina sidang kudu aya gelutan mah meureun salah sahiji sarat mun rek jadi wakil rakyat teh, kudu bisa penca. Tah tetela, nu di leluhur nu linglung mah!
Memang begitu! Coba saja, wakil rakyat orang-orang pintar. Masa dalam sidang berkelahi. Padahal dalam rapat RT juga tidak ada yang seperti itu. Memalukan!memberi contoh kurang baik. Jadi kalau dalam sidang harus ada pertengkaran, mungkin salah satu syarat mau jadi wakil rakyat, harus bisa silat. Itu membuktikan bahwa wakil rakyat pada linglung.

CEU UNÉH : Tah, ari nu di handapna mah, si anu linglung teh!
Kalau yang di bawah, kamu yang linglung.

KANG UJÉ : Ha……r? naha aing make disebutkeun linglung?
Ha…..h? kenapa saya dibilang linglung?

CEU UNÉH : Ah da heueuh! Geus puguh sia teh boga pamajikan. Tah aing! Der bobogohan deui jeung tukang lotek. Na teu linglung ari kitu?
Memang benar! Sudah jelas-jelas kamu punya istri. Kenapa kamu selingkuh dengan tukang loték. Memangnya itu tidak linglung?

KANG UJÉ : Beu geus ka dinya deui…
Sudah jangan membahas itu lagi..

Notabene, anggota dewan adalah anggota partai politik, di mana anggota partai politik mempunyai idealisme dan pandangan yang berbeda. Kejadian adu jotos para anggota dewan lebih diakibatkan oleh mempertahankan idealisme dan kepentingan golongan. Oleh karena itu, pengarang mengungkapkan hal ini sebagai media bagi masyarakat untuk menilai baik dan buruk para pelaku politik.
Fakt-fakta di atas menunjukkan kepada kita bahwa DKJH merupakan hasil interpretasi dari kehidupan nyata, walaupun tidak segamblangnya pengarang menyalin dari gambaran kehidupan.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 SIMPULAN
Setelah melakukan pengkajian dan penelitian berdasarkan penelaahan pada bab-bab sebelumnya, dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Struktur sosial yang terdapat dalam DKJH terbagi ke dalam empat kelompok yaitu kelompok sosial ménak, santana, cacah dan religi. Kelompok sosial ménak diwakili oleh keluarga Juragan. Juragan di gambarkan sebagai orang yang mempunyai kekuasaan atas ekonomi dan gelar yang di sandangnya. Di sini Juragan menampilkan gaya hidup mewah, yang tidak semua orang bisa menikmatinya, harta yang melimpah serta kedudukan yang tinggi membuatnya mampu memenuhi segala keinginannya.
Kelompok sosial santana di wakili oleh Ua Lebé, tokoh Ua di golongkan dalam kelompok santana karena memiliki kelebihan dalam hal ilmu keagamaan. Dalam masyarakat Sunda Lebé identik dengan orang yang mengurusi syarat dan ketentuan tentang pernikahan menurut agama. Cara pandang masyarakat terhadap lebé pun berbeda dengan cara bagaimana orang memandang Juragan yang mempunya kekuasaan atas ekonomi serta gelar yang di sandangnya.
Keterpurukan ekonomi serta hutang yang melilit menjadi sebuah keidentikan bagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam konteks DKJH kelompok sosial cacah digambarkan seperti itu. Pengarang menggambarkannya dengan tokoh-tokoh yang bisa mewakili kelompok tersebut seperti tukang becak, tukang tapai, dan orang yang bekerja sebagai pembantu.
Kepercayaan terhadap Tuhan merupakan sebuah gambaran tentang adanya masyarakat beragama, dalam masyarakat Sunda mayoritas agama yang dianut adalah agama Islam. Dalam DKJH pengarang menggambarkan masyarakat yang beragama Islam. Hal ini terbukti dengan adanya kalimat-kalimat yang biasa di gunakan oleh orang Islam itu sendiri seperti asalamuallaikum, astagfirullah, dan orang yang bergelar sebagai Ustad, meskipun secara tersirat dihadirkan oleh pengarang. Dalam masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Sunda khususnya, Ustad adalah sebutan atau gelar yang di sandang oleh orang yang mempunyai pengetahuan agama Islam.
Keempat kelompok ini saling berhubungan sehingga terjadi proses simbiosis mutualisme di mana satu pihak saling menarik atau memanfaatkan pihak lain.

2) Dalam suku Sunda garis keturunan radén bertolak dari patrilineal atau garis ayah, dalam DKJH gelar Radén yang di sandang oleh Juragan merupakan sebuah metafor dari diri pengarangnya, pengarang dengan gelar Radén, nampaknya ingin mempertahankan gelar yang disandangnya. Hal tersebut menegaskan bahwa sampai saat ini gelar tersebut masih ada yang mempertahankan.
Kritikan yang sangat tajam dari pengarang merupakan sebuah bukti ketiadaan hubungan yang menghubungkan antara pengarang dengan para maesenas atau sebuah lembaga yang melindunginya.
Karya sastra tidaklah lahir dari kevakuman sosial, artinya pengarang menciptakan karyanya terinspirasi oleh lingkungannya. Jjadi tidak semua hasil imajinasi tertuang dalam karyanya. Realitas sosial yang terdapat dalam DKJH merupakan gambaran pada saat DKJH lahir yaitu tahun 2005, di mana pada saat itu perekonomian bangsa Indonesia berada dalam keterpurukan.

4.2 SARAN
Penelitian terhadap DKJH ini hanya menitikberatkan pada stratifikasi sosial dan latar belakang kepengarangan saja, di sini penulis menggunakan teori strukturalisme genetik sebagai landasan utama untuk mencari asal-usul lahirnya DKJH. Dalam hal ini penulis berharap ada peneliti yang mengkaji dengan teori-teori lainnya, seperti teori hegemoni yang membahas tentang kekuasaan dan yang dikuasai atau teori interteks yang menganggap bahwa suatu teks adalah hipogram dari teks yang telah ada, dan teori dekonstruksi yang mengangkat hal-hal yang tidak di anggap penting menjadi lebih penting, dan teori lain yang kiranya bisa menggali lebih dalam tentang DKJH.

Hello world!

November 20, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!